PPG

2 Contoh Tugas Mandiri Modul Pedagogik GKMI Topik 1-8 PPG Kemenag 2025

Artikel berikut memuat contoh tugas mandiri Modul Pedagogik GKMI Topik 1-8, PPG Kemenag 2025.

Tayang:
Penulis: Vanda Rosetiati | Editor: Vanda Rosetiati
GRAFIS TRIBUN SUMSEL/VANDA
MODUL PEDAGOGIK GKMI - Contoh tugas mandiri Modul Pedagogik GKMI Topik 1-8, PPG Kemenag 2025. Pelatihan Modul 2 Pedagogik Guru Kelas Madrasah Ibtidaiyah (GKMI) mulai 14 September. 

TRIBUNSUMSEL.COM - Artikel berikut memuat contoh tugas mandiri Modul Pedagogik GKMI Topik 1-8, PPG Kemenag 2025. Silakan disimak. 

Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Kementerian Agama tahun 2025 batch 3 berlangsung sejak 3 September lalu, peserta pelatihan adalah guru tertentu atau guru dalam dalam jabatan (Daljab) 

Masa pelatihan Modul 2 Pedagogik Guru Kelas Madrasah Ibtidaiyah (GKMI) mulai 14 September terdiri dari delapan topik. (Kunci jawaban PPG Kemenag 2025 lainnya klik di sini)

Setelah mempelajari materi, maka Bapak/Ibu Guru diminta untuk mengerjakan tugas mandiri dan diunggah pada LMS. 

Berikut ini Contoh Tugas Mandiri Modul Pedagogik GKMI Topik 1-8 PPG Kemenag 2025. Contoh jawaban dilansir dari channel YouTube Edu Trend. 


___________

Contoh Tugas Mandiri Modul Pedagogik GKMI Topik 1-8 PPG Kemenag 2025

=== Contoh 1 ===

TUGAS MANDIRI 

MODUL PEDAGOGIK GKMI 

GURU MADRASAH PPG DALJAB KEMENAG BATCH 3 TAHUN 2025

Nama
LPTK

1. Gagasan dari Topik 1 hingga Topik 8 (5 Gagasan)

Pendekatan Pembelajaran Problem-Based Learning (PBL) dan Project-Based Learning (PjBL)
Kedua pendekatan ini berfokus pada pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan menekankan penyelesaian masalah nyata atau proyek kompleks. 

PBL mengharuskan siswa untuk memecahkan masalah yang terbuka, sementara PjBL mengarahkan siswa untuk mengerjakan proyek yang mendalam dan berbasis masalah dunia nyata.

>  Pendekatan Pembelajaran Berdiferensiasi (Differentiation Based Learning DBL)

DBL menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan, minat, dan kemampuan masing-masing siswa, bertujuan untuk memberikan pembelajaran yang sesuai dengan tingkat kesiapan dan gaya belajar mereka.

> Pendidikan Inklusif

Konsep pendidikan inklusi menekankan integrasi siswa dengan kebutuhan khusus ke dalam kelas reguler, dengan dukungan yang dibutuhkan agar mereka dapat belajar bersama siswa lainnya tanpa ada diskriminasi.

> Teori Konstruktivisme dalam Pembelajaran

Teori konstruktivisme menekankan bahwa siswa membangun pengetahuan mereka sendiri melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan, yang menjadi dasar bagi pendekatan seperti PBL dan DBL. Hal ini membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi.

> Peran Guru dalam Pembelajaran Abad Ke-21

Guru berfungsi sebagai fasilitator, membimbing siswa untuk mengidentifikasi masalah dan mencari solusi, serta menyesuaikan metode pembelajaran agar dapat mencakup beragam gaya belajar.


2. Miskonsepsi dari Topik 1 hingga Topik 8 (5 Miskonsepsi)

> Pemisahan antara DBL dan Pembelajaran Individual

Banyak yang menganggap DBL mirip dengan pembelajaran individual, padahal DBL lebih menekankan pada penyesuaian metode pembelajaran dalam konteks kelompok besar atau kecil, dengan fokus pada kolaborasi antar siswa.

> Pendekatan PBL yang Terlalu Terfokus pada Penyelesaian Masalah

Terkadang, PBL dipahami hanya sebagai cara untuk memecahkan masalah tanpa memperhatikan pentingnya pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kolaborasi yang perlu diajarkan secara terstruktur.

> Pendidikan Inklusif sebagai Proses Sekadar Menyisipkan ABK ke Kelas Reguler

Beberapa orang menganggap pendidikan inklusif hanya sebatas menempatkan siswa berkebutuhan khusus ke dalam kelas reguler, padahal konsep inisiswa berkebutuhan khusus ke dalam kelas reguler, padahal konsep ini melibatkan adaptasi kurikulum dan metode pembelajaran agar semua siswa, termasuk ABK, dapat berpartisipasi secara aktif.

> Penggunaan Teknologi dalam Pendidikan Inklusif

Terdapat pandangan yang salah kaprah bahwa teknologi hanya digunakan sebagai alat bantu untuk ABK saja, padahal teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan pembelajaran seluruh siswa dengan menyesuaikan berbagai kebutuhan belajar mereka. 

> Penilaian dalam DBL yang Hanya Mengukur Hasil Akhir

Beberapa orang hanya menilai keberhasilan DBL berdasarkan produk akhir siswa, padahal penilaian berkelanjutan yang mencakup proses sangat penting dalam menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa.

 

=== Contoh 2 ===

TUGAS MANDIRI 

MODUL PEDAGOGIK GKMI 

GURU MADRASAH PPG DALJAB KEMENAG BATCH 3 TAHUN 2025

Nama
LPTK

1. Gagasan dari Topik 1 hingga Topik 8 (5 Gagasan)

> Pendidikan Inklusif

Pendidikan inklusi menekankan bahwa setiap anak, tanpa memandang latar belakang, kemampuan, atau kebutuhan khusus mereka, memiliki hak yang setara untuk belajar dalam lingkungan yang mendukung dan menghargai keberagaman.

Hal ini mengacu pada prinsip kesetaraan dan keadilan, yang memastikan setiap anak, termasuk yang berkebutuhan khusus, mendapatkan pendidikan yang layak tanpa terisolasi atau terabaikan. 

> Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)

Pembelajaran mendalam berfokus pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, inovasi, dan kolaborasi. Ini menekankan pentingnya penciptaan suasana belajar yang mindful, meaningful, dan joyful.

Pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk lebih terlibat secara emosional, sosial, dan intelektual dalam proses belajar.

> Pentingnya Kolaborasi dalam Pendidikan

Dalam pendidikan inklusif, kolaborasi antara guru, orang tua, dan komunitas sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi siswa.

Kolaborasi ini memastikan bahwa setiap siswa mendapat dukungan yang dibutuhkan untuk berkembang secara optimal, baik dalam aspek akademik maupun sosial.

> Mindful, Meaningful, Joyful dalam Pembelajaran

Konsep pembelajaran yang mengutamakan mindfulness (kesadaran penuh), meaningfulness (bermakna), dan joyfulness (menyenangkan) adalah elemen

> Peran Guru Dalam Pembelajaran Mendalam

Guru memegang peranan utama dalam menciptakan pengalaman belajar yang mendalam.

Mereka perlu menguasai cara merancang kegiatan pembelajaran yang relevan, mengelola dinamika kelas, dan menggunakan teknologi untuk mendukung pembelajaran yang efektif.

2. Miskonsepsi dari Topik 1 hingga Topik 8 (5 Miskonsepsi)

> Pendidikan Inklusif sebagai Kebijakan Formal Saja

Banyak yang mungkin menganggap pendidikan inklusi hanya sebagai kebijakan yang memindahkan siswa berkebutuhan khusus ke dalam kelas reguler tanpa penyesuaian yang memadai.

Padahal, pendidikan inklusi lebih dari sekadar penempatan fisik di ruang kelas reguler, tetapi mencakup penyesuaian kurikulum dan metode pengajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

> Pendekatan PBL yang Terlalu Terfokus pada Penyelesaian Masalah

Terkadang, PBL dipahami hanya sebagai cara untuk memecahkan masalah tanpa memperhatikan pentingnya pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kolaborasi yang perlu diajarkan secara terstruktur.

> Pendidikan Inklusif sebagai Proses Sekadar Menyisipkan ABK ke Kelas Reguler

Beberapa orang menganggap pendidikan inklusif hanya sebatas menempatkan siswa berkebutuhan khusus ke dalam kelas reguler, padahal konsep ini.

===

*) Disclaimer:

Kunci jawaban di atas hanya hanya digunakan sebagai panduan bagi Guru Peserta Pelatihan PPG Daljab Kemenag 2025. Soal bersifat terbuka sehingga memungkinan ada jawaban lainnya.

Demikian 2 Contoh Tugas Mandiri Modul Pedagogik GKMI Topik 1-8 PPG Kemenag 2025.

Baca juga: 50 Soal Tes Akhir Modul/TAM Profesional GKMI PPG Kemenag 2025 Lengkap Kunci Jawaban

Baca juga: 40 Soal Pretest Modul Pedagogik PAI Topik 1-8 PPG Kemenag 2025 dan Kunci Jawaban

Baca berita dan artikel lainnya langsung dari google news

Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp Tribunsumsel.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved