Berita Pendidikan

10 Contoh Cerpen Tentang Libur Sekolah Semester Ganjil TA 2025/2026, Singkat dan Berkesan

1. Liburan yang Tertinggal di Desa: Dito merasa liburannya gagal total saat Ayah mengumumukan mereka akan menginap satu minggu di rumah Kakek yang be

Tayang:
Tribunsumsel.com
ILUSTRASI MENULIS CERPEN - Berikut adalah 10 Contoh Cerpen Tentang Libur Sekolah Semester Ganjil TA 2025/2026, Singkat dan Berkesan 

Hari pertama dimulai dengan kekacauan. Ia lupa menyalakan penanak nasi, salah memilah cucian hingga kemeja putih ayahnya menjadi merah jambu, dan pusing memikirkan menu makan siang. Di hari kedua, ia mulai belajar manajemen waktu. Ia bangun lebih pagi, mencatat belanjaan dengan teliti, dan mencoba memasak sayur lodeh lewat panduan video. Di hari ketiga, Zaki menyadari betapa lelahnya rutinitas rumah tangga yang selama ini dianggapnya sepele. Liburan itu tidak membawanya ke tempat baru, namun membawanya pada cara pandang baru untuk lebih menghargai setiap keringat orang tuanya.

7. Misteri di Balik Bukit Pinus

Tiara dan dua sepupunya, Aris dan Dina, menghabiskan liburan di rumah nenek di sebuah desa terpencil. Di belakang rumah itu, terdapat bukit pinus yang katanya menyimpan "harta karun". Berbekal senter, air minum, dan keberanian, mereka mendaki bukit itu di pagi yang berkabut.

Di tengah jalan, mereka tersesat dan sempat merasa takut. Bukannya menemukan emas atau perhiasan, mereka justru menemukan sebuah air terjun kecil yang sangat jernih dengan hamparan bunga liar di sekelilingnya. Di sana, mereka menemukan sebuah kotak kayu tua di bawah pohon besar yang berisi surat-surat lama dan foto masa muda kakek mereka bersama teman-teman desanya. Mereka sadar bahwa "harta karun" tersebut adalah kenangan. Liburan itu mengajarkan mereka bahwa petualangan yang sesungguhnya adalah tentang perjalanan dan kebersamaan, bukan sekadar hasil akhir.

8. Kursus Kilat Kemanusiaan

Bagi Reno, libur sekolah adalah waktu untuk menaikkan peringkat di game online. Namun, Ayahnya punya rencana lain. Reno dikirim ke panti asuhan milik teman Ayahnya untuk menjadi relawan selama seminggu. Awalnya Reno merasa risih dan tidak nyaman karena harus berbagi kamar dan mengikuti jadwal yang ketat.

Namun, segalanya berubah saat ia bertemu dengan seorang anak bernama Adi yang sangat mahir matematika tetapi tidak memiliki buku latihan. Reno mulai menghabiskan waktunya untuk mengajari anak-anak di sana, berbagi cerita, dan bahkan menyelenggarakan turnamen sepak bola kecil di halaman panti. Saat hari kepulangan tiba, Adi memberikan sebuah gambar tangan sederhana sebagai ucapan terima kasih. Reno pulang dengan hati yang jauh lebih kaya; ia menyadari bahwa kebahagiaan sejati justru ditemukan saat kita memberi, bukan hanya saat kita menerima.

9. Pelari di Persimpangan Jalan

Fajar adalah atlet lari sekolah yang baru saja mengalami cedera di lututnya tepat sebelum libur dimulai. Ia menghabiskan hari-hari pertama liburannya dengan murung, menatap sepatunya yang menganggur. Kakaknya kemudian mengajaknya untuk pergi ke pantai, bukan untuk lari, melainkan untuk melukis.

Awalnya Fajar menolak, merasa melukis adalah hal yang membosankan. Namun, saat ia mulai menggoreskan warna di atas kanvas sambil mendengarkan deburan ombak, ia merasakan kedamaian yang sama seperti saat ia berlari. Ia belajar bahwa identitasnya bukan hanya tentang kaki yang cepat, tapi juga tentang jiwa yang kreatif. Liburan itu menjadi masa penyembuhan fisik sekaligus mental. Fajar kembali ke sekolah tidak hanya dengan lutut yang pulih, tapi dengan hobi baru yang membuatnya lebih tenang menghadapi tekanan kompetisi.

10. Jejak Hijau di Tepi Kota

Geng "Eko-Siswa" yang terdiri dari lima sekawan memutuskan untuk melakukan sesuatu yang berbeda di liburan semester ini. Daripada ke mal, mereka melakukan aksi "Gerilya Hijau". Mereka mengumpulkan uang saku untuk membeli bibit pohon dan tanaman hias, lalu meminta izin kepada pengurus lingkungan untuk menyulap lahan kosong yang kumuh di pinggir perumahan menjadi taman kecil.

Mereka bekerja di bawah terik matahari, mengangkut tanah, mengecat ban bekas untuk pot, dan menanam bibit. Tetangga yang awalnya acuh mulai datang membantu memberikan minuman dan cemilan, bahkan ada yang menyumbangkan tanaman tambahan. Di akhir liburan, lahan yang dulunya tempat pembuangan sampah telah berubah menjadi taman cantik tempat anak-anak kecil bermain. Mereka belajar tentang kekuatan kerja sama tim dan kepuasan melihat sesuatu tumbuh karena usaha sendiri. Liburan itu meninggalkan jejak yang akan terus tumbuh subur, jauh setelah mereka kembali ke bangku kelas.

(Tribunsumsel.com/Putri Kusuma Rinjani)

***

Artikel lainnya di google news.

Ikuti dan bergabung disaluran WhatsApp Tribunsumsel.com     

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved