Berita Palembang

Penyebab Cuaca Terasa Lebih Panas, BMKG Imbau Warga Sumsel Waspadai Dehidrasi dan Karhutla

Provinsi Sumatera Selatan resmi memasuki awal musim kemarau yang diperkirakan akan berlangsung hingga Oktober 2026.

Tayang:
Sripoku.com
PANAS -- Warga menggunakan payung saat melintas di atas Jembatan Ampera Palembang. Provinsi Sumatera Selatan resmi memasuki awal musim kemarau yang diperkirakan akan berlangsung hingga Oktober 2026. 
Ringkasan Berita:
  • Provinsi Sumatera Selatan resmi memasuki awal musim kemarau yang diperkirakan akan berlangsung hingga Oktober 2026.
  • Meski suhu udara masih dalam kategori normal, namun masyarakat merasakan cuaca siang hari lebih panas dan terik.
  • BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana kekeringan, bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta fenomena iklim El Nino.

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) kini telah memasuki musim kemarau. 

Meski suhu udara yang tercatat masih berada dalam kategori normal, masyarakat merasakan cuaca siang hari lebih panas dan terik dibandingkan biasanya.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Siswanto, mengatakan bahwa berdasarkan hasil pengamatan selama tiga hari terakhir, suhu udara di wilayah Sumsel berada pada rentang 25 hingga 34 derajat Celsius.

Kondisi tersebut masih tergolong normal untuk periode musim kemarau.

"Berdasarkan hasil pengamatan suhu udara dalam tiga hari terakhir, rentang suhu udara terpantau berada pada nilai 25–34 derajat Celsius. Kategori suhu udara ini masih dalam kondisi normal yang terjadi saat musim kemarau,” kata Siswanto saat dikonfirmasi TribunSumsel.com, Senin (8/6/2026).

Namun demikian, ia menjelaskan, suhu maksimum yang terjadi pada siang hingga sore hari akan terasa lebih panas ketika dirasakan langsung oleh tubuh manusia, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

"Sensasi suhu atau feels like dapat mencapai lebih dari 39 derajat Celsius, padahal suhunya berada pada nilai 25–34 derajat Celsius," katanya.

Ia menjelaskan, perbedaan antara suhu udara yang terukur dengan suhu yang dirasakan tubuh dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain suhu udara aktual yang tinggi, kelembapan udara yang rendah, serta paparan sinar matahari yang langsung mengenai kulit.

"Kondisi ini membuat masyarakat merasakan cuaca yang lebih panas dibandingkan angka suhu yang tercatat oleh alat pengamatan," katanya.

Seiring masuknya musim kemarau, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla).

BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dan iklim terkini melalui kanal resmi BMKG.

Selain itu, warga juga diminta menghemat penggunaan air guna mengantisipasi berkurangnya ketersediaan air selama musim kemarau.

Bagi pelaku usaha pertanian dan perkebunan, BMKG menegaskan agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun hutan.

Pasalnya, kondisi cuaca yang kering dapat menyebabkan api cepat meluas dan sulit dikendalikan.

Sementara itu, masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan disarankan untuk memperbanyak konsumsi air putih guna mencegah dehidrasi dan mengurangi risiko gangguan kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan.

BMKG juga mengingatkan pentingnya penggunaan tabir surya (sunscreen), topi, maupun kacamata hitam saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari untuk melindungi tubuh dari paparan sinar ultraviolet (UV) yang lebih intens selama musim kemarau.

Dengan kondisi cuaca yang semakin terik, masyarakat diharapkan dapat menjaga kesehatan dan mengikuti berbagai imbauan yang telah disampaikan agar tetap aman selama musim kemarau berlangsung.

Sementara itu, Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Sumatera Selatan, Nandang Pangaribowo, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil pemantauan alat BMKG, suhu maksimum di wilayah Sumsel masih berada pada kisaran normal, yakni hingga 34,8 °C.

"Untuk Kota Palembang, suhu maksimum tercatat mencapai 34,5 °C pada 3 Juni 2026. Meski masih dalam batas normal, kondisi cuaca terasa lebih panas akibat sejumlah faktor atmosfer yang sedang berlangsung," katanya.

Menurutnya, dominasi angin monsun Australia yang bersifat kering, minimnya tutupan awan, serta fase awal musim kemarau menjadi penyebab utama peningkatan suhu yang dirasakan masyarakat.

Ia menambahkan, saat ini juga terdapat indikasi pergeseran kondisi iklim global menuju potensi aktifnya fenomena El Nino moderat hingga kuat, yang turut memperkuat kondisi panas dan kering di wilayah Indonesia, termasuk Sumatera Selatan.

Selain itu, faktor pemanasan global, perubahan iklim, serta menghangatnya suhu muka laut di kawasan perairan Indonesia juga ikut berkontribusi terhadap meningkatnya suhu udara di wilayah Sumsel.

Nandang juga mengingatkan bahwa kondisi musim kemarau diperkirakan akan berlangsung hingga Oktober 2026, dengan curah hujan yang berada pada kategori bawah normal.

 

 

Baca artikel menarik lainnya di Google News

Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp TribunSumsel.com

Sumber: Tribun Sumsel
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved