Lirik Lagu

Lirik Lagu Daerah Sumsel Petanglah Petang Beserta Maknanya

Petang lah petang menyilap lampu Ambik kusitan di pucuk mija Petang lah petang kemane aku, Denie umbang dek bebadah, Baju kurung bekancing tige Diba

Tayang:
Penulis: Putri Kusuma Rinjani | Editor: Weni Wahyuny
Tribunsumsel.com/ Putri Kusuma
LIRIK LAGU -- Berikut akan disajikan selengkapnya lirik lagu Petang lah Petang, lagu daerah Palembang, Sumatera Selatan. 

TRIBUNSUMSEL.COM -- Bagi masyarakat Sumatra Selatan, lagu Petanglah Petang mungkin sudah tidak asing lagi di telinga, namun maknanya tetap sukses bikin baper (bawa perasaan) lintas generasi. 

Narasi dalam lirik lagu klasik ini menggambarkan kisah pilu seseorang yang gagal bersanding dengan pujaan hati ("amunlah urung ancaman kite"), hingga memicu kesedihan mendalam yang terus membayangi pikiran di kala siang dan menjelma menjadi mimpi di setiap tidurnya.

Berikut sajian selengkapnya lirik lagu Petang Lah Petang yang bisa dinyanyikan.

Lirik Lagu Petang Lah Petang

Petang lah petang menyilap lampu
Ambik kusitan di pucuk mija

Petang lah petang kemane aku
Denie umbang dek bebadah

Baju kurung bekancing tige
Dibatak endung ke selangit

Amunlah urung ancaman kite
Alangkah panjang karang tangis

Petang lah petang menyilap lampu
Ambik kusitan di pucuk mija Petang lah petang kemane aku

Denie umbang dek bebadah
Kepiat berlinang-linang, mati disambar burung binti

Siang tekinak malam tekenang Dibatak tiduk menjadi mimpi

Makna Lagu Petanglah Petang

Secara mendalam, lagu daerah Sumatra Selatan "Petanglah Petang" ini mengisahkan tentang kegalauan emosional, rasa kesepian yang hebat, dan ratapan atas kegagalan cinta. 

Bait awal menggambarkan perasaan terombang-ambing dan kehilangan arah tujuan hidup saat waktu beranjak senja, yang kemudian berlanjut pada kepedihan mendalam (karang tangis) akibat patah hati karena rencana pernikahan atau jalinan asmara yang diimpikan terpaksa kandas di tengah jalan. 

Kesedihan tersebut begitu membekas dalam ingatan sang tokoh, hingga bayang-bayang sang kekasih terus menghantui pikirannya di waktu siang dan terbawa masuk ke dalam mimpi di waktu malam.

Selain menyuarakan kepedihan asmara, lagu ini juga sarat akan kearifan lokal masyarakat Sumatra Selatan melalui penggunaan sastra tutur berbentuk pantun dan metafora alam.

Penyebutan aktivitas harian kuno seperti "menyilap lampu" (menyalakan lampu minyak) di waktu petang, busana tradisional "baju kurung bekancing tige", hingga daerah Selangit, menunjukkan latar budaya yang sangat kuat. 

Melalui penggambaran burung binti yang menyambar ikan di air yang berlinang, lagu ini secara cerdas mengibaratkan betapa rapuhnya perasaan manusia ketika takdir memisahkan mereka dari orang yang paling dicintai secara mendadah.

(*)

Baca Berita Tribunsumsel.com Lainnya di Google News  

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

Sumber: Tribun Sumsel
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved