Bus ALS Kecelakaan di Muratara

Pilu Ngadiono, Korban Bus ALS Kecelakaan di Muratara, Langsung Drop Dengar Istri Meninggal Dunia

Ngadiono, korban kecelakaan maut bus ALS di Muratara, mengalami syok mengetahui istrinya, Jumiatun, meninggal dunia.

Tayang: | Diperbarui:
Tribunsumsel.com/Rachmad Kurniawan
ANAK KORBAN -- Joni (22) anak dari Ngadiono dan Jumiatun korban lakalantas bus ALS dengan truk tangki di Muratara mengungkap saat-saat terakhir menjelang meninggalnya sang ibu, Jumat (15/5/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Ngadiono, korban kecelakaan maut bus ALS di Muratara, mengalami syok mengetahui istrinya, Jumiatun, meninggal dunia.
  • Pasutri ini sebelumnya dirujuk ke RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang karena mengalami luka bakar serius lebih dari 50 persen akibat kecelakaan tersebut. 
  • Mendiang Jumiatun awalnya ikut merantau untuk pertama kalinya ke Lubuk Pakam, Sumut demi membantu ekonomi keluarga.

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Ngadiono, salah satu korban kecelakaan maut antara bus ALS melawan truk tangki di Muratara langsung drop usai mendengar istrinya, Jumiatun, meninggal dunia, Jumat (15/5/2026). 

Sebelumnya, Ngadiono dan istrinya dirujuk ke RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang karena mengalami luka bakar serius lebih dari 50 persen akibat kecelakaan tersebut. 

Sama-sama berjuang pascaoperasi luka bakar, namun Jumiatun kini meninggal dunia pada Jumat (15/5/2026) pukul 05.45 WIB, meninggalkan Ngadiono yang hingga kini masih berjuang menjalani pengobatan di rumah sakit. 

Joni (22), anak Ngadiono dan Jumiatun mengungkapkan, kondisi ayahnya langsung menurun usai mendengar kabar duka ini. 

"Dengar ibu tidak ada lagi kondisinya drop, tadi panas badannya tinggi, sempat 38 derajat lebih, terus menggigil," ujarnya di depan instalasi forenksi RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang.

Kata Joni, kondisi ayahnya sempat menunjukkan kondisi membaik bahkan kini sudah dipindah ke kamar rawat setelah operasi. Berbeda dengan ibunya yang masuk ICU.

Dengan kondisi yang masih lemah, Ngadiono ternyata sering bertanya mengenai kondisi istrinya yang juga sedang menjalani perawatan medis.

Baca juga: Breaking News : Mayat Pria Tanpa Identitas Ditemukan Mengapung di Sungai Desa Merah Mata Banyuasin

Pertanyaan ini diakui Joni kerap membuat hatinya pilu hingga tak berani mengungkap kondisi sebenarnya dari sang ibu. 

"Bapak beberapa kali bangun, minta makan dan minum walau cuma satu dua sendok. Bapak nanya terus kondisi Ibu. Saya bilang Alhamdulillah membaik, tujuan saya supaya Bapak semangat pulihnya. Terus dengar itu kondisi Bapak juga Alhamdulillah ada kemajuan," ujarnya.

Namun takdir berkata lain, Jumiatun meninggal dunia. Kabar ini juga sudah disampaikan Joni kepada ayahnya yang kini masih berjuang di rumah sakit. 

"Rencananya sore nanti langsung jenazah ibu dibawa pulang, nunggu koordinasi dengan pihak sini," ujarnya.

Perjalanan Perdana Jumiatun ke Medan

Joni juga mengungkapkan fakta pilu lain dari kedua orangtuanya.

Ternyata pasutri warga Pati, Jawa Tengah, itu hendak berangkat ke Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Dikatakan Joni, ini adalah keberangkatan pertama ibunya ke Lubuk Pakam. Sedangkan ayahnya, memang sudah lama menjadi pedagang kasur di wilayah tersebut.

Jumiatun sengaja ikut demi bisa membantu suaminya berdagang guna memenuhi kebutuhan hidup keluarga di tengah kondisi ekonomi yang dirasa makin sulit. 

Sumber: Tribun Sumsel
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved