Berita Palembang

Harga BBM Nonsubsidi Meroket, Pengusaha Batubara Sumsel: Operasional Makin Berat, Kami 'Manyun'

Kenaikan harga BBM nonsubsidi turut memicu kekhawatiran di sektor perekonomian. Ketua Asosiasi Pengusaha

Penulis: Hartati | Editor: Moch Krisna
Tribun Jogja via setkab.go.id
Inilah Daftar Harga BBM Non-subsi di Pulau Jawa dan Bali Setelah Harga Pertamax Turun 
Ringkasan Berita:
  • Pengusaha batubara Sumsel semakin tertekan karena biaya operasional membengkak akibat harga solar nonsubsidi yang melonjak hampir dua kali lipat.
  • Asperindo menyebut adanya peluang kenaikan tarif pengiriman barang, meski saat ini pelaku usaha masih melakukan efisiensi dan memantau kondisi.
  • Imbas Perang Teluk dan kenaikan BBM, industri sawit menghadapi kelangkaan pupuk, kenaikan biaya angkut ekspor, serta anjloknya pasar Timur Tengah.

 


TRIBUNSUMSEL.COM,PALEMBANG --
Kenaikan harga BBM nonsubsidi turut memicu kekhawatiran di sektor perekonomian. Ketua Asosiasi Pengusaha Batubara Sumsel, Andi Asmara, mengatakan para pengusaha semakin tertekan akibat kebijakan ini.

Menurutnya, sebelumnya para pelaku usaha sudah menghadapi tantangan dari kebijakan pemerintah yang mewajibkan angkutan batubara melintas di jalan khusus. Kondisi tersebut saja sudah membuat banyak pengusaha kesulitan, bahkan ada yang kolaps. Kini, dengan kenaikan harga BBM nonsubsidi terutama solar nonsubsidi yang disebut naik hampir dua kali lipat berdampak pada beban operasional yang semakin berat.

Andi menilai situasi ini akan semakin memperburuk kondisi usaha di sektor batubara. "Naiknya harga BBM cuma menambah berat operasional tambang, pokoknya posisi (pengusaha) manyun," kata Andi menjawab pertanyaan wartawan Tribunsumsel.com, Minggu (19/4/2026).

Sementara itu, dari sektor jasa pengiriman, Ketua Asosiasi Pengusaha Jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (ASPERINDO), Haris Jumadi, menyebut kenaikan harga BBM berpotensi mendorong naiknya tarif pengiriman barang maupun dokumen. Hal ini karena biaya operasional, terutama bahan bakar, menjadi salah satu komponen utama.

Meski demikian, Haris mengatakan saat ini para pelaku usaha masih bersikap "wait and see" dan belum terburu-buru menaikkan tarif. Namun, peluang kenaikan harga tetap terbuka seiring meningkatnya biaya operasional. Untuk sementara, pelaku usaha mencoba menyiasati kondisi ini dengan melakukan efisiensi di berbagai sektor guna menekan dampak kenaikan harga BBM terhadap biaya operasional.

"Intinya, ruang kenaikan tarif itu ada, tapi waktunya akan sangat bergantung pada seberapa besar tekanan biaya yang terjadi ke depan," kata Haris.

 

Sektor Sawit

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono mengatakan, dampak Perang Teluk terhadap industri sawit menyebabkan gejolak ekonomi, di mana harga pupuk naik dan langka. Begitu juga dengan harga BBM industri di lapangan yang naik dan Pertamina mulai membatasi pengiriman BBM ke daerah.

Kenaikan harga BBM berdampak ke semua faktor biaya, seperti angkutan produksi TBS (Tandan Buah Segar) ke PKS (Pabrik Kelapa Sawit) dan pengapalan CPO ke pabrik refinery, biaya alat berat, hingga kemungkinan tuntutan kenaikan UMR, dan lain-lain.

Sehingga, hal ini akan berdampak pada kenaikan biaya operasional kebun. Di sektor pemasaran, dilaporkan biaya transportasi (transport cost) naik, terutama untuk tujuan Eropa yang harus mengelilingi Benua Afrika. Demikian juga biaya asuransi (insurance cost) naik, terutama karena faktor keamanan dan keselamatan. Namun, dari sisi output ekspor ke Timur Tengah justru anjlok.

(*)

Sumber: Tribun Sumsel
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved