Berita Palembang

ISPA hingga DBD Mengintai Saat Pancaroba dan Kemarau, Dinkes Sumsel Imbau Waspada

Ira Primadesa, mengatakan perubahan cuaca dari musim hujan ke kemarau membuat kondisi tubuh lebih rentan terhadap penyakit.

Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Slamet Teguh
TribunMedan/HO
ILUSTRASI MUSIM KEMARAU -- ISPA hingga DBD Mengintai Saat Pancaroba dan Kemarau, Dinkes Sumsel Imbau Waspada 

Ringkasan Berita:
  • Dinkes Sumsel mengimbau masyarakat waspada terhadap penyakit yang meningkat saat pancaroba hingga musim kemarau, seperti ISPA, DBD, diare, dan flu.
  • Perubahan cuaca, debu, polusi, serta berkurangnya air bersih menjadi pemicu utama gangguan kesehatan.
  • Masyarakat diminta menerapkan pola hidup sehat, menjaga kebersihan, dan segera berobat jika mengalami gejala serius.

 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -  Dinas Kesehatan Sumatera Selatan (Dinkes Sumsel) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai penyakit yang kerap muncul saat peralihan musim hingga memasuki musim kemarau.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa, mengatakan perubahan cuaca dari musim hujan ke kemarau membuat kondisi tubuh lebih rentan terhadap penyakit.

"Pergantian musim ini biasanya membuat daya tahan tubuh menurun karena harus beradaptasi dengan perubahan suhu dan kelembapan,” kata Ira, Senin (13/4/2026).

Ia menjelaskan, pada masa peralihan musim atau pancaroba, sejumlah penyakit yang sering muncul di antaranya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), flu, demam berdarah dengue (DBD), diare, chikungunya, hingga asma dan alergi.

Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya penyebaran virus, masih aktifnya nyamuk akibat sisa genangan air hujan, serta meningkatnya debu di udara.

Menurutnya, pada saat memasuki musim kemarau, pola penyakit cenderung berubah.

Udara yang lebih kering, meningkatnya debu, serta berkurangnya ketersediaan air bersih menjadi faktor utama munculnya gangguan kesehatan.

“Di musim kemarau, kasus ISPA dan infeksi tenggorokan biasanya meningkat akibat debu, polusi, dan asap, termasuk dari kebakaran hutan dan lahan,” katanya.

Baca juga: Palembang Diprediksi Alami Kemarau Lebih Awal & Lebih Lama dari Normal, Risiko Kekeringan Meningkat

Baca juga: Kemarau 2026 Diprediksi Akhir Mei, 3 Kabupaten di Sumsel Ajukan Status Siaga Karhutla

Selain itu, penyakit lain seperti diare dan muntaber juga kerap terjadi akibat kualitas air yang menurun. 

Gangguan kesehatan lain yang sering muncul meliputi konjungtivitis atau sakit mata, penyakit kulit, hingga dehidrasi dan heat stroke akibat suhu panas ekstrem.

Ia menambahkan, meskipun musim kemarau identik dengan kondisi kering, risiko penyakit seperti DBD dan chikungunya tetap ada karena kebiasaan masyarakat menampung air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Khusus di wilayah Sumsel terutama saat terjadi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, jumlah kasus ISPA dan iritasi mata dapat meningkat signifikan. 

"Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Sumsel terus menggalakkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) serta kampanye 3M Plus, yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat penampungan air," katanya. 

Masyarakat juga diimbau untuk menggunakan masker saat udara berdebu atau berasap, memperbanyak konsumsi air putih, menjaga kebersihan makanan dan lingkungan, serta menghindari paparan panas berlebih.

Sumber: Tribun Sumsel
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved