Puisi
Isi Puisi 'Mata Luka Sengkon Karta' karya Peri Sandi Huizche, Tragedi G30S PKI
Inilah teks puisi Mata Luka Sengkon Karta" karya Peri Sandi Huizche yang pernah populer dan viral di media sosial.
TRIBUNSUMSEL.COM - Inilah isi teks puisi Mata Luka Sengkon Karta" karya Peri Sandi Huizche yang pernah populer dan viral di media sosial.
Puisi itu menceritakan tentang tragedi G30S PKI dan kehidupan seorang petani miskin yang menjadi buruh tani.
Puisi ini juga menyampaikan pesan moral tentang kemunafikan, ketidakadilan, dan sikap semena-mena dari para pemimpin negeri.
Puisi "Mata Luka Sengkon Karta" dibacakan oleh Peri Sandi Huizche dalam acara Tadarus Puisi Ramadhan Hari Pancasila, 1 Juni 2017 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki.
Video puisi itu dimuat dalam YouTube Fadli Zon dan sudah ditonton lebih dari 8,8 juta sejak perilisannya pada 9 Juli 2017 hingga sekarang.
Gerakan 30 September atau G30S PKI merupakan peristiwa atau catatan kelam yang menggugurkan nyawa para Pahlawan Revolusi tanah air.
Untuk mengenang dan mengingat jasa para pahlawan yang gugur, tak ada salahnya menggunakan puisi untuk ajakan persatuan bangsa.
Dikutip dari berbagai sumber, berikut kumpulan teks puisi memperingati peristiwa G30S PKI dan Hari Kesaktian Pancasila untuk dijadikan caption di media sosial.
Isi Puisi "Mata Luka Sengkon Karta" (Peri Sandi Huizche)
Serupa Maskumambang
Pupuh mengantarkan wejangan hidup
Kecapi dalam suara sunyi menyendiri
Pupuh dan kecapi membalut nyeri
Menyatu dalam suara genting
Terluka, melukai, luka-luka
Menganga akibat ulah manusia
Terengah-engah dalam tabung dan selang
Aku seorang petani bojongsari.
menghidupi mimpi dari padi yang ditanam sendiri.
Kesederhanaan panutan hidup.
Dapat untung dilipat dan ditabung.
1974 tanah air yang kucinta berumur dua puluh sembilan tahun.
waktu yang muda bagi berdirinya sebuah negara.
Lambang garuda dasarnya pancasila.
Undang-undang empat lima merajut banyak peristiwa.
peralihan kepemimpinan yang mendesak.
Bung karno diganti pak harto dengan dalih keamanan negara.
Pembantaian enam jenderal satu perwira.
Enam jam dalam satu malam.
Mati di lubang tak berguna.
Tak ada dalam perang mahabarata bahkan di sejarah dunia.
Hanya di sejarah indonesia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Puisi-Mata-Luka-Sengkon-Karta-karya-Peri-Sandi-Huizche.jpg)