Hari Kartini 2026

Contoh Pidato Memperingati Hari Kartini di Sekolah, Referensi Acara 21 April 2026

Contoh Pidato memperingati Hari Kartini di sekolah sebagai referensi untuk acara 21 April 2026.

Penulis: Vanda Rosetiati | Editor: Vanda Rosetiati
Tribunsumsel.com/Grafis/Vanda Rosetiati
PIDATO HARI KARTINI - Grafis ilustrasi contoh pidato memperingati Hari Kartini di sekolah. Pidato Hari Kartini bertujuan merefleksikan kembali nilai emansipasi Kartini dalam konteks modern kekinian seiring zaman. 

TRIBUNSUMSEL.COM - Peringatan Hari Kartini 2026 tanggal 21 April tahun ini jatuh pada hari Selasa. Umumnya, pada momen peringatan Hari Kartini akan diadakan serangkaian acara termasuk Upacara Bendera. 

Pada momen istimewa dan spesial ini, pembina atau inspektur upacara akan menyampaikan amanat atau pidato Hari Kartini

Kali ini Tribunsumsel.com menyajikan contoh pidato memperingati Hari Kartini di sekolah.

Bukan sekadar seremoni, pidato Hari Kartini di sekolah bertujuan merefleksikan kembali nilai emansipasi Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini dalam konteks modern kekinian seiring zaman.

_____________

Contoh Pidato Memperingati Hari Kartini di Sekolah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Yang terhormat kepala sekolah 

Yang saya hormati para guru dan karyawan 
Dan yang saya banggakan para siswa SD/ SMP/ SMA......

Hadirin yang saya hormati,

Puji syukur kita haturkan kepada Allah yang telah memberikan kesehatan dan hidayah sehingga pada pagi ini kita bisa melaksanakan upacara bendera di lapangan sekolah

Para peserta upacara yang saya banggakan

Saya mengimbau agar kalian semua selalu tetap rajin belajar dengan penuh kedisiplinan. 
Selanjutnya, perlu saya ingatkan bahwa pada bulan April ini, kita wajib mengingat dan mengenang sosok pahlawan emansipasi wanita yang hari kelahirannya kita peringati setiap tanggal 21 April. 

Beliau adalah Raden Ajeng Kartini. 

Dilahirkan sebagai seorang putri bangsawan, Kartini tumbuh menjadi gadis yang lincah, rajin dan pemberani. Beliau dengan cepat merasakan adanya ketidakadilan dalam sistem budaya yang berlaku di sekitarnya.

Perempuan kerap dianggap remeh dan di beberapa tempat sering mengalami perlakuan, penindasan dan ketidakadilan dari para laki-laki.  Singkatnya, kaum lelaki menganggap dirinya berhak melakukan apa saja terhadap kaum perempuan.

Tentu saja hal tersebut sangat mengusik Kartini siang dan malam. Belum lagi adanya tradisi-tradisi yang mengekang fisik dan jiwa kaum perempuan seperti adanya kewajiban dipingit selama berhari-hari.

Sumber: Tribun Sumsel
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved