Arti Bahasa Arab

Arti Hadits Akrimu Auladakum Wa Ahsinu Adabahum, Nasihat Rasulullah tentang Mendidik Anak

Muliakan anak-anak memiliki arti bahwa orangtua memiliki tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik untuk anak mereka.

Penulis: Lisma Noviani | Editor: Lisma Noviani
GRAFIS TRIBUNSUMSEL/LISMA
MEMULIAKAN ANAK -- Ilustrasi ibu dan anak berikut arti Hadits Akrimu Auladakum Wa Ahsinu Adabahum, Nasihat Rasulullah tentang memuliakan anak dan mengajari adab. 

TRIBUNSUMSEL.COM --  Lafal akrimu auladakum wa ahsinu adabahum, adalah kutipan hadits dari Nabi Muhammad SAW tentang bagaimana orang tua mendidik anak-anaknya.

أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوا آدَابَهُمْ

Artinya:

"Berikanlah kemuliaan kepada anak-anakmu dan ajarkanlah mereka adab yang baik." (HR Ibnu Majah)

atau arti yang lebih sederhana:

Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka (HR. Ibnu Majah).

Hadits tentang mendidik anak ini merupakan anjuran untuk memberikan perlakuan yang baik dan mulia kepada anak-anak, serta mengajarkan mereka adab dan etika yang baik untuk membentuk karakter yang positif.

Muliakan anak-anak memiliki arti bahwa orangtua memiliki tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik untuk anak mereka.

Bukan berarti segala materi diberi atau memanjakan anak. Tetapi memuliakan adalah memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita, mulai dari materi, pendidikan, perkataan, akhlak dan contoh yang terbaik serta adab sopan santun atau tata krama.

Memuliakan anak-anak, karena memuliakan anak itu berkah. Anak dapat kita maknai anak biologis anak kandung, anak didik, bisa santri, siswa atau murid, mahasiswa, mahasantri semua yang kita asuh, openi, kita didik, baik secara fisik, psikis, lahir atau bathin bisa dimaknai sebagai anak kita.


Anak-anak kita membutuhkan bimbingan dan perhatian yang lebih, agar tetap semangat untuk belajar menjalani kehidupan sekarang.

Maka dalam ajaran Islam pertama kali yang harus diajarkan kepada anak adalah ilmu-ilmu untuk beribadah kepada Allah, meliputi akidah, syariah dan akhlaq. Setelah ketiga hal pokok (ushul al-din) ini, baru ilmu al-hal, ilmu sesuai dengan konteks kebutuhan dan keahliannya.


Sekali lagi bahwa mulianya dan berharganya seorang anak tidak bisa dilepaskan dari peran orang tua, karena kita sebagai orang tua punya hak dan keinginan akan dijadikan apa nanti anak-anak kita.

Jadi seorang nasroni, majusi ataupun ateis semua itu tergantung pada diri kita sebagai orang tua. Seperti dawuhnya Rasulullah SAW:

”Kullu mauludin Yuladu ‘Alal Fithrah,Yuhawwidanihi aw Yunassironihi ( setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, yang menjadikan yahudi atau nashroni adalah orang tuanya).

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved