Berita OKI

Petani Duku di OKI Ngeluh, Bunga Duku Tak Berkembang Akibat Musim Kemarau Basah

Saat ditemui salah satu petani duku di Desa Kijang Ulu, Hamdan mengatakan panen duku miliknya sangat berkurang jauh dari pada tahun-tahun sebelumnya.

Penulis: Winando Davinchi | Editor: Slamet Teguh
Tribunsumsel.com/ Winando Davinchi
DUKU - Pemilik kebun duku Komering yang berada Desa Kijang Ulu, Kecamatan Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan Rabu (19/2/2025) menyebut tahun 2025 ini tidak bisa panen duku miliknya karena tak berbuah. 

TRIBUNSUMSEL.COM, KAYU AGUNG -- Hampir sebagian besar warga Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan tidak dapat menikmati manisnya musim buah duku yang seharusnya dirasakan setiap tahun.

Hal tersebut diakibatkan anomali musim kemarau basah telah terjadi sepanjang awal tahun 2025 ini.

Saat ditemui salah satu petani duku di Desa Kijang Ulu, Hamdan mengatakan panen duku miliknya sangat berkurang jauh dari pada tahun-tahun sebelumnya.

"Kemungkinan disebabkan karena tidak ada kemarau. Hujan terus menerus membuat bunga duku menjadi rontok sebelum sempat putik," katanya saat diwawancarai dilokasi Rabu (19/2/2025) siang.

Menurutnya, dengan tidak adanya sinar matahari membuat produksi uceng atau bunga yang kemudian berkembang menjadi buah duku tidak berproses dengan semestinya.

"Maka tidak baik kalau tidak ada musim kemarau, karena pohon duku membutuhkan terik matahari untuk melakukan proses berbunga," sebutnya.

Dijelaskannya, musim duku biasanya sudah berlangsung sejak bulan Januari, Februari hingga puncaknya Maret.

Namun karena tidak ada panas maka bunga duku sama sekali tidak tampak.

"Selain tahun ini tidak ada buah duku tumbuh, banyak juga pohon kering dan mati mendadak karena rusak," jelasnya.

Baca juga: Duku Komering Rasuan OKU Timur Mulai Dipanen Petani, Dijual Rp 15-20 Ribu per Kg

Baca juga: Duku Komering Dijual Rp 10 Ribu per Kg di Palembang, Rasanya Manis Bikin Pembeli Ketagihan

Menurutnya, bagi sebagian petani di OKI musim panen duku merupakan 'celengan' tahunan mereka yang selama ini tidak pernah absen melakukan panen.

Bahkan, Mustofa mengaku setiap tahun dari 50 pohon duku miliknya bisa menghasilkan ratusan peti.

"Kalau tahun lalu setiap pohon bisa menghasilkan 10 sampai 15 peti (berisikan 15 kilogram) melimpah. Saya dapat menjual 10 ton duku," 

"Sedangkan untuk sekarang paling banyak setiap pohon hanya 2 peti, itupun banyak pohon tidak berbuah. Jadi sangat jauh perbedaannya," ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Rahmat, petani asal Desa Kijang yang mengaku pohon duku tahun ini 'mandul' karena tidak berbunga.

"Pokoknya rugi sama sekali tak ada buah. Meskipun ada hanya sedikit itupun habis dimakan oleh hewan seperti tupai dan lainnya," tuturnya.

"Mudah-mudahan tahun depan cuaca normal lagi dan bisa kembali berbuah lagi dan bisa mendatangkan pemasukan untuk warga sekitar," pungkasnya.

 

 

 

Baca Berita Tribunsumsel.com Lainnya di Google News

Ikuti dan Bergabung Dalam Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved