Citizen Journalism

Robohnya Tanaman Kopi Jaloer, Dulu Pernah Berjaya di Masanya

MENJELANG siang, ku buka facebook sebagaimana kebiasaan disela-sela aktivitas. Disana, tampillah akun Tribun Sumsel, portal berita online ter

|
Editor: Moch Krisna
Youtube Tribunsumsel
Petani Tersenyum Harga Kopi Meroket 

TRIBUNSUMSEL.COM -- MENJELANG siang, ku buka facebook sebagaimana kebiasaan disela-sela aktivitas. Disana, tampillah akun Tribun Sumsel, portal berita online terbesar di Sumatera Selatan menampilkan Liputan Ekslusif mengenai kopi di kawasan Semende, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Mulai dari harga kopi yang melonjak tajam, sejarah perkopian hingga kendala yang dihadapi para pekebun disana. Menarik sekali.

Seketika saya teringat dengan tanah kelahiran kami, tanah transmigrasi di kabupaten Banyuasin. Kalian pasti mengenal kawasan itu, Jaloer. Ya benar, kawasan yang infrastruktur jalannya begitu buas, dulunya adalah penghasil kopi yang cukup disegani. Ketika masa panen tiba, berton-ton kopi dihasilkan. Palembang, adalah tempat pelabuhan terakhir kopi Jaloer didistribusikan melalui tongkang/kethek -kendaraan air.

Sekarang itu hanya tinggal cerita, tinggal kenangan dan hanya sebatas memori dibenak para mantan pekebun kopi. Utamanya saya, generasi pertama dan terakhir yang merasakan masa jaya hingga tersingkirnya kopi di Negeri Seribu Jembatan itu. Benteng terakhir kebun kopi milik kami, tahun lalu kami tumbangkan dan diganti dengan sawit yang dianggap lebih menjanjikan di tinjau dari beberapa sisi.

Apakah kami menyesal dengan pembantaian tanaman kopi jika melihat harganya sekarang ini? Satu kilo harganya Rp 62.000 BOLO!!Jujurly, iya. Hahahaaaa....tapi mari kita bahas.

Bibit dari Jawa

Awal transmigrasi, tahun 80-an, orang tua kami membawa bibit kopi dari Jawa, tempat asal orang tua. Sebagaimana ceritanya mereka pernah bekerja di sebuah perkebunan kopi milik negara disana. Ada dua macam kopi yang ditanam yakni kopi "cilik" (kecil) dan kopi "gede" (besar), begitu kami menyebut nama tanaman itu di Jaloer.

Belakangan kami paham bahwa kopi cilik yang merujuk pada buahnya berukuran kecil itu dinamakan kopi arabica. Sedangkan kopi gede dinamakan robusta. Khusus kopi robusta ini namanya kopi Boria. Entah nama asalnya dari mana tapi begitu kata orang tua kerap menyebut istilahnya disamping kopi gede.

Dua hektar lahan jatah transmigrasi, satu hektarnya kami tanami kopi dua jenis itu. Satu hektarnya lagi untuk lahan pangan, kami tanami padi. Begitulah mengakali hidup diawal-awal menjalani hidup di tanah transmigrasi.

Ketika masa tanam kopi hingga memanen tak ada kendala berarti. Kedua jenis tanaman kopi ini tumbuh dengan baik dan cocok dengan kondisi tanah di Jaloer. Memang ada penyesuaian lahan semisal tanah tempat tanam kopi tidak boleh terendam air atau kebanjiran. Maka, lahan kopi biasanya bergulut-gulut.

Pada akhirnya setelah beberapa tahun, kopi yang ditanam telah menghasilkan buah yang disetiap musimnya siap dipanen.

Teringat jelas ketika masa kecil bersama teman sebaya-sepermainan, kami bergelantungan di tanaman kopi. Begitulah cara kami memanen buah kopi, "mritili" istilah kami, dari pokok batangnya. Maklum, badan masih kecil, jika ada buah kopi yang siap panen tidak terjangkau oleh tangan maka memanjatlah solusinya. Kalau para orang tua, mereka cukup membawa tangga saja, mudah dan aman tentunya.

Dalam satu hektar, kopi yang dihasilkan bisa berton-ton. Prosesnya panjang sebelum kopi siap dijual. Setelah dipanen, kopi harus digiling terlebih dahulu agar pengeringan kopi dibawah terik sinar matahari bisa cepat. Idealnya jika cuaca terik maka cukup 3 sampai 4 hari kopi kering dan siap digiling kembali untuk dijual ke pengepul. Jika dijemur gelondongan saja tanpa digiling maka kering dalam waktu seminggu itu sudah anugerah terindah.

Bapak kami, dulu ahlinya membuat gilingan kopi basah. Ia membuat alat itu dari bahan sederhana, dari kayu dan paku. Meski begitu, alat itu sangat efektif membantu pekerjaan kami. Zaman dulu belum secanggih sekarang, apa-apa sudah ada alatnya dan tinggal beli. Kurasa mungkin zaman dulu alat pemecah kopi basah sudah ada, hanya saja keterbatasan dana segalanya.

Tugas kami sebagai anak-anaknya, selain menjemur kadang menggiling kopi basah di gudang yang jumlahnya berkarung-karung itu. Maka, dewasa ini istilah tren nge-gym atau fitnes, sejatinya kami sudah lebih dulu melakukan kegiatan itu. Bedanya, kegiatan kami mengangkat karung berisi kopi kedalam corong penggilingan dan memutar tuas menggunakan tangan. Targetnya, segera selesaikan penggilingan kopi dalam karung! Berat memang pekerjaan itu tapi ya memang berat.

Cita rasa baru varian kopi pesisir

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved