Arti Kata Bahasa Arab

Arti Ilm, Dhan, Syak, Sebutan untuk Tingkatan Berpikir dalam Islam & Contoh Tingkat Berpikir Kritis

Dalam ayat alquran umat islam diperintahkan untuk menjauhi perilaku su`udhan. Su`udhan akan memberikan banyak dampak negatif bagi orang yang melakukan

Penulis: Lisma Noviani | Editor: Lisma Noviani
Grafis MG Tribunsumsel.com/Dimas/Rafli
Arti Ilm, Dhan, Syak, Sebutan untuk Tingkatan Berpikir dalam Islam & Contoh Tingkat Berpikir Kritis 

TRIBUNSUMSEL.COM --Arti Ilm, Dhan, Syak, Sebutan untuk Tingkatan Berpikir dalam Islam & Contoh Tingkat Berpikir Kritis.


Ada tiga tingkatan berpikir dalam pandangan Islam. Ketiganya yaitu ilm, dhan dan syak.


Berikut penjelasan singkatnya.

Ilm ( علم ) adalah tingkatan paling tinggi yaitu jika pengetahuan itu didukung bukti bukti kuat dan sesuai fakta.

Pengetahuan dengan didukung bukti-bukti kuat ini biasa telah memiliki kepastian karena terdapat bukti nyata dan tidak terbantahkan.


Dhan (dugaan) ظن
jika buktinya belum meyakinkan, namun kebenarannya lebih dominan.


Dalam islam, dugaan disebut juga prasangka. Prasangka terbagi menjadi 2 yaitu

Prasangka baik yang dalam islam disebut dengan istilah husnu-dhan dan
Prasangka buruk/jelek yang dalam islam disebut dengan istilah su`u-dhan

Dalam ayat alquran umat islam diperintahkan untuk menjauhi perilaku su`udhan. Su`udhan akan memberikan banyak dampak negatif bagi orang yang melakukannya. Contohnya su`udhan akan membuat hati serta pikiran menjadi tidak tenang dan juga akan membuat perilaku saling curiga dan tidak percaya antar sesama.

Dugaan biasanya muncul sebelum ada bukti, dan akan berhenti saat telah ada bukti.
Jadi bukti adalah sesuatu yang penting tetapi bukti itu sendiri adalah akhir dari suatu proses.


Syak ّ شك yaitu keraguan, yang muncul apabila kemungkinan benar dan salahnya seimbang.

Yang dimaksud dengan syak (ragu) adalah setara antara dua kemungkinan (50 persen, 50 persen). Oleh karena itu syak berbeda dengan dzan (dugaan). Terdapat hukum-hukum tersendiri dalam pembahasan tentang dugaan (dzan) meskipun sebagiannya seperti hukum yang ada pada keadaan syak

 

Katsir al-Syak (bahasa Arab: كثير الشك, ragu yang berlebihan) adalah istilah fikih yang bermakna orang-orang yang menurut pandangan masyarakat banyak ragu (syak) dalam melaksanakan amalan-amalan ibadah keagamaannya.

Dalam sebagian riwayat, "banyak ragu" dinisbatkan kepada setan dan pengikutan terhadap bentuk syak ini adalah merupakan perbuatan buruk. Dalam fikih Islam "banyak ragu" memiliki hukum-hukum khusus dan sudah seharusnya supaya tidak memperhatikan syak yang menimpa dirinya.

Dikutip dari tulisan Santuso, Pendidik Generasi Ummah, Seorang ulama besar yang bernama Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah menjabarkan bahwa berpikir kritis memiliki tiga tingkatan. 

 

1. Berpikir Dangkal (fikrus sathhiy)

Tingkat berpikir yang rendah ialah berpikir dangkal. Berpikir dangkal biasanya terjadi ketika seseorang kurang teliti saat mengamati suatu objek dan ia tidak memiliki banyak pengetahuan tentang objek tersebut. 

Karena kedua faktor itu, berpikir dangkal menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat karena bertentangan dengan fakta. Efek berpikir dangkal ialah bisa menghasilkan pemikiran salah dan bahkan bisa jadi akan terjerumus kepada hal-hal yang bersifat tahayul dan kurofat.

      

2. Berpikir Mendalam (fikrul amiq)

Tingkat berpikir yang menengah ialah berpikir mendalam. Berpikir mendalam terjadi ketika seseorang teliti dalam mengamati suatu objek dan memiliki banyak pengetahuan tentang objek tersebut. Karena kedua faktor itu, berpikir mendalam menghasilkan kesimpulan yang sesuai dengan fakta.

 

Sebagai contoh, ketika melihat fakta tentang "pelangi", orang berpikir mendalam maka akan teliti mengamati fakta tersebut dan memiliki pengetahuan (sains) tentang fakta tersebut. 

 

3. Berpikir Cemerlang (fikrul mustanir)

Tingkat berpikir yang tinggi ialah berpikir cemerlang. Berpikir cemerlang terjadi ketika seseorang teliti dalam mengamati suatu objek, memiliki banyak pengetahuan tentang objek tersebut, dan mampu menghubungkan dengan sesuatu yang ada sebelum dan sesudah adanya fakta tersebut.

Sebagai contoh, ketika melihat fakta tentang "pelangi", orang berpikir cemerlang maka akan teliti mengamati fakta tersebut dan memiliki pengetahuan (sains) tentang fakta tersebut. Ditambah lagi, ia akan berpikir bahwa pelangi itu ciptaan Allah dan bisa terjadi atas izin dari Allah.


Pemikiran cemerlang ini sangat berpengaruh dalam menguatkan keimanan. Sebab, pemikiran cemerlang tidak hanya sebatas memikirkan fakta tersebut tapi juga memikirkan tentang sesuatu lain yang berhubungan dengan fakta tersebut yaitu bahwa fakta tersebut adalah ciptaan Allah dan fakta tersebut memiliki kadar sesuai dengan yang telah Allah tetapkan. 
 

Arti Ilm, Dhan, Syak, Sebutan untuk Tingkatan Berpikir dalam Islam & Contoh Tingkat Berpikir Kritis.

 

Baca juga: Arti Wabud Rabbaka Hatta Yatiyakal Yaqin, Bacaan Surat Al Hijr Ayat 99, Beribadah Sampai Akhir Hayat

Baca juga: Arti Man Lazima Al-Istighfar, Hadits Anjuran Rasulullah untuk Membiasakan Istighfar, ini Manfaatnya

Baca juga: Arti Walladzina Uutul ‘Ilma Darojaat, Kutipan Surat Al Mujadalah Ayat 11, Derajat Orang yang Berilmu

Baca juga: Arti Utlubul Ilma Minal Mahdi Ilal Lahdi, Quotes Bahasa Arab, Menuntut Ilmu tidak Ada Batasan Usia

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved