Wawancara Eksklusif Tribun Sumsel
Menhub Budi Karya Sumadi, Asli Wong Palembang, Anak Jalanan Masa Kecil Jualan Sabun
Menhub Budi Karya Sumadi adalah orang asli Palembang yang lahir di Jalan Dr Cipto Kelurahan 30 Ilir Kecamatan Ilir Barat (IB) II Palembang.
Penulis: Arief Basuki Rohekan | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUNSUMSEL. COM, PALEMBANG - Banyak masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel) bertanya sosok Menteri Perhubungan (Menhub) RI Budi Karya Sumadi apa benar asli Wong Palembang.
Nyatanya memang Menhub Budi Karya Sumadi adalah orang asli Palembang yang lahir di Jalan Dr Cipto Kelurahan 30 Ilir Kecamatan Ilir Barat (IB) II Palembang.
Pria kelahiran Palembang 18 Desember 1956 ini menghabiskan masa kecil di kota kelahirannya.
Kala itu, waktu usianya menginjak 10 tahun, Budi Karya sempat membantu usaha orang tuanya berjualan sabun, lilin, makanan kering, dan selai pisang. Barang jualan tersebut didatangkan dari luar daerah.
Budi kecil menjual barang dagangan tersebut dengan dua metode yaitu menitipkan di warung dan menjajakan sendiri ke calon pembeli.
Ayah Budi Karya, seorang pejuang di Sumatera Selatan bernama Abdul Somad Sumadi saat itu bekerja di Kanwil Deppen Sumsel (1962) sebelumnya pernah bekerja sebagai guru dan utusan pemerintahan Bung Karno.
Baca juga: Mudik ke Palembang, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi Ngaku Suprise Orang Palembang Kreatif
Sedangkan sang ibu, Kusmiati bekerja sebagai guru TK yang kemudian menjadi anggota DPRD Sumsel tahun 1956-1959.
Sang ibu juga pernah menjadi pimpinan Redaksi Obor Rakyat yang terbit tahun 1962.
Budi Karya mengenyam pendidikan di SD Muhammadiyah Bukit Kecil. Lalu, melanjutkan ke SMPN 1 Talang Semut Lama dan SMA Xaverius I.
Setelah itu, Ia pun hijrah ke tanah Jawa tepatnya, Yogyakarta untuk kuliah Arsitektur di Universitas Gadjah Mada.
Tribun Sumsel berkesempatan mewawancarai Budi Karya Sumadi yang merupakan Wong Palembang, dengan dipandu Kepala Newsroom Tribun Sumsel-Sriwijaya Post (Sripo) Hj L Weny Ramdiastuti di Graha Tribun Sumsel. Berikut hasil wawancaranya.
Q: Kami kedatangan tamu super penting dan istimewa karena kami kedatangan Menhub pak Budi Karya Sumardi. Makasih Pak sudah datang mudik? Pak Budi ini reuni dan apa bae tugas hari ini?
A: Saya membiasakan diri kalau keluar kota yang relevan dengan Kemenhub, pulang ke Palembang sekalian naik LRT.
Q:Masih banyak belum tahu Pak Budi Wong Palembang?
A: Dari kecil aku di Kambang Iwak. Bapak aku namanya Abdul Somad Sumadi bekerja di Kanwil Deppen Sumsel dan Guru, aku lahir di Jalan Dr Cipto sampai SMA, dan uniknya saya anak jalanan kadang- kadang jual sabun, lilin, kadang cari iwak kecil. Nah, Sri Suroso kakak paling besar kadang marahi aku.
Q: Anda anak keberapa dari bersaudara?
A: Saya nomor 6 dari 8 saudara dan Omi (adik) paling bungsu.
Q: Apa kenangan mendalam di Palembang, karena sering ngumpul kawan?
A: Saya melihat kehidupan pribadi saya dulu, kalau kita rutin bekerja pening palak, dan hiburan kawan, saya di Kagama Wakil pak Ganjar dan kita saling komunikasi. Dimana pertemanan bisa menghilangkan stress dan aku sering kembali kesini kadang ketemu teman SMA, dan teman sekolah lainnya.
Q:Apakah dak kebalik sekarang, dulu teman anda kaya, tapi sekarang anda yang kaya?
A: Tidak juga
Q: Ketika Covid-19 anda pernah mengalaminya, bisa dibilang ini kehidupan kedua bagi pak Budi, lalu teman melihat pak Budi tambah semangat. Apa pelajaran paling besar diambil?
A: Covid-19 salah satu cobaan bisa terjadi dimana saja dalam sakit apapun, ketika baru sadar betapa kecilnya kita dan tidak ada apa-apa, dan semua jalan. Karena itu saya memang teringat saya Menhub dan saya bapak dari anak dan suami istri saya dan itu ada di benak.
Jadi, satu kita melihat sama dan biasa dimata Allah SWT biasa, jadi jangan sombong. Lalu dengan sakitnya itu hingga bisa jalan dan lari hingga kehidupan lebih baik.
Bayangi dulu saya itu tidak berolahraga sekarang berolahraga termasuk makan dan sering nyanyi sehingga kehidupan lebih rileks, tapi tanggung jawab terhadap negara dan keluarga saya upayakan lebih besar lagi.
Ketika saya sadar nanya ke anak mau apa, dan mereka mau bikin kafe.
Dan dulu saya tidak bolehkan selama jadi Menteri, tapi saat saya sakit saya setuju dan desainlah, jadi kalau kita bisa melakukannya bisa mengobati diri sendiri.
Dan ketika saat pertama kali saya sadar dan saya katakan Covid adalah musuh tapi harus kita hadapi.
Saya sempat ngobrol sama dokter Palembang Mulidi, satu kali Pak Presiden telepon aku tanya sudah sembuh belum dan bilang Pak Menteri dak usah urusi pekerjaan makan yang banyak saja.
Q: Jadi pesannya seperti itu Pak Presiden?
A: Pesannya sederhana, jadi sedikit menghibur meski dak ditanyai eh kamu na mudiklah siap belum, tapi saya dibesarkan hati oleh beliau. Sakit itu memberikan arti bagi saya, dan mudah- mudahanlah saya bisa memberikan suatu yang baik untuk bangsa ini.
Q: Pak Budi sudah berapa tahun jadi Menteri Pak Jokowi?
A: Saya sejak tahun 2016 jadi sudah 6 tahun.
Q: Sosmed Pak Budi aktif sekali bisa 5 kali dalam sehari. Jadi Pembantu Presiden Anda pasti sudah hapal pesan- pesan yang tidak langsung apalagi orang Solo (Jokowi) kalau ngomong serba tidak langsung, apa yang paling terkesan pernah alami?
A: Kalau saya bersama pak presiden bukan seperti karakter orang Palembang yang meledak- meledak, namun dari gesturnya kita sudah tahu suka atau tidak, bahwa saat covid selalu ingin rapat.
Dan saya terkejut saat mudik tahun lalu, itu mau mudik ada 80 juta orang dan beliau ngomong tidak ada penghambatan tidak ada yang diperiksa, makamanolah (bagaimanalah) kita dak pusing.
Tapi itu suatu komitmen tidak ada kata tidak untuk melaksanakannya maka berejokah, kita macam- macam. Tapi semuanya itu kalau komunikasi kita bagus semua maka akan ada jalan, dan kita banyak komunikasi dengan Pimred dan punya komunitas, justru perintah Jokowi itu karena ada komunikasi bagus dengan Pimred.
Suatu waktu malam aku kumpulkan media, besok akan satu arah kalau orang tidak tahu satu arah maka akan macet semua.
Memang kadang- kadang sedikit kontradiksi pemikiran kita dengan beliau, seperti suatu waktu di Bandara nanya ramai tidak dan saya jawab ramai ternyata ia senang bagus itu, saat Covid dan kita bilang apa adanya meski takut, artinya ekonomi berkembang.
Nah makanya saat Covid kita buka tutup mungkin Indonesia number one menyelesaikan, Cina dan Eropa lama menyelesaikannya.
Jadi dalam membantu Pak Presiden kita kadang kala mendengarkan perintahnya, dan kadang kala melihat gesturnya cukup memberi sinyal apa yang harus dilakukan.
Baca berita lainnya langsung dari google news
Silakan gabung di Grup WA TribunSumsel
Terungkap Kunci Sukses Haji Halim Orang Terkaya di Palembang |
![]() |
---|
H Halim Palembang, Orang Terkaya Blak-blakan Ungkap Prinsip Hidup, Patuh Pajak Takut Tuhan |
![]() |
---|
Wawancara Eksklusif Eddy Santana Putra Anggota DPR RI, Kota Palembang Menyedihkan |
![]() |
---|
Kiat Sukses Ala Dirut PT Perkebunan Wak Uban, Produk Olahan Aren Indralaya Dibawa Sampai Korea |
![]() |
---|
Wawancara Eksklusif Tribun Sumsel dengan Bupati Banyuasin Askolani: Pergi Pagi Pulang Malam (1) |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.