Hari Guru 2022
7 Cerpen Hari Guru Nasional 2022 Menyentuh Hati dan Haru, Guru Juga Ibuku
Membuat Cerpen (cerita pendek) tak boleh ketinggalan dalam meneriahkan Hari Guru Nasional 2022, lantaran dengan membuat dan membacakan cerpen kamu dap
Penulis: Putri Kusuma Rinjani | Editor: Abu Hurairah
Para siswa pun berpikir sejenak, dan hanya butuh beberapa detik, Indah pun langsung mengancungkan tangannya.
“Waduh. Pasti bosan si pekebun mangga karena makan mangga tiap hari. Bisa jadi mereka juga akan mengalami kerugian.”
“Nah, betul sekali. Pas jawabannya. Anak-anak sekalian, Bu Guru maupun seluruh guru di dunia ini tidak ada bedanya dengan pekebun mangga."
Jika Ibu hanya memakan ilmu untuk diri Ibu sendiri, maka sudah barang tentu diri ini akan mengalami kerugian tersebab sedikitnya memberi manfaat kepada orang lain.”
Siswa seisi kelas pun sudah sangat mengerti dengan analogi inspiratif yang Bu Guru sampaikan. Indah pula demikian. Seuntai tanyanya sudah dijawab tuntas oleh Bu Guru.
"O ya, anak-anak. Perlu kalian ketahui, Mustafa Kemal Ataturk dalam kutipannya mengatakan bahwa guru itu laksana lilin yang rela membakar dirinya sendiri demi menerangi jalan orang lain. Jadi, sampai di sini, adakah nanti dari kalian yang ingin menjadi guru seperti Ibu?”
Beberapa siswa pun mengancungkan tangan dengan bangga, karena ternyata cita-cta mereka memang ingin menjadi seorang guru.
“Wah, kalau begitu, pada Hari Guru nanti kami perlu berusaha lebih dalam mengapresiasi dan membahagiakan guru, bukan begitu, Bu?” tanya seorang siswa
“Salah, temanku. Mengapresiasi dan membahagiakan guru tidak perlu menunggu hingga Hari Guru tiba, bahkan semestinya kita lakukan setiap hari,” tegas Indah
Bel pun berbunyi sebagai penanda usainya pelajaran di kelasnya Indah dan kawan-kawan.
Tampak seluruh siswa sudah lebih ceria dari sebelumnya, yang menandakan bahwa tidak ada lagi kebingungan di antara mereka.
*TAMAT*
Baca juga: Lirik dan Chord Gitar Lagu Guruku Tersayang Ciptaan Melly Goeslaw, Lagu Untuk Hari Guru Nasional
2. Pasti Bisa
Aku bernama Diandra aku memiliki cita-cita yaitu menjadi seorang dokter. Aku sadar bahwa aku bukanlah keturunan orang yang kaya raya namun aku bertekad untuk terus berusaha menggapai impianku itu.
Prestasi di kelasku cukup bagus aku selalu mendapatka peringkat pertama juara kelas belum ada yang bisa mengalahkan prestasiku ini.
Kegemaranku yang selalu berada di perpustakaan selalu membuat aku dijuluki si kutu buku. Karena disanalah aku akan mudah dicari.
Namun ketika aku lulus aku belum memiliki biaya untuk melanjutkan kuliah sesuai dengan jurusan yang aku mau.
Di suatu hari aku melihat ada sebuah postingan seorang dokter anak bernama Vindy Ruslianti menjadi dokter itu mudah syaratnya Cuma satu yaitu harus Pintar dan Pintar banget.
Sekarang banyak perkuliahan kedokteran yang dikhususkan untuk anak-anak yang cerdas dari golongan menengah kebawah.
Aku coba mengikuti tes yang di share oleh dokter tersebut dan alhamdulillah aku lolos dan di terima di fakultas kedokteran tersebut. Setelah aku lulus aku akan membuka prkatek di kota tempat tinggalku yaitu Bandung.
Selagi ada kesempatan jangan ragu untuk mencoba kamu pasti bisa.
Terus menjadi penyemangat diri sendiri karena dirimu akan berubah jika ada tekad dalam dirimu sendiri.
3. Jangan Menunda Pekerjaan Rumah
Aku bernama Yanto aku kelas tiga SMP. Hari ini pak Rizal merupakan guru biologi dan dia memberikan tugas untuk esok hari pada papan tulis.
Setelah pak Rizal selesai mengajar ia kembali ke ruang guru.
Dan murid-murid mulai menyalin tugas yang harus di kerjakan besok.
Ada 5 pertanyaan yang harus di jawab dan aku menganggap soal itu cukup mudah. Sehingga mungkin memerlukan 30 atau satu jam juga selesai.
Dan saat waktu pulang ada temanku yang mengajak main ke rumahnya. Dan akupun ikut pergi ke rumahny lalu kami bermain PS sampai jam 05.00 sore.
Setelah sampai rumah aku bermalas- malasan di tempat tidur. Sehingga aku tertidur sampai pukul 19.00. aku terperanjat dan teringat belum mengerjakan tugas.
Dan aku mulai mengerjakan setelah menelaah soalnya aku tidak bisa menemukan jawaban dalam waktu satu jam yang perkirakan tadi.
Soalnya cukup sulit sehingga sekarang jam sepuluh aku baru menyelesaikan 2 soal saya. Dan karena mengantuk aku mengakhiri tugasku dan tertidur. Pagi hari aku bangun telat karena tidur terlalu larut.
Aku pikir nanti di sekolah aku bisa mengerjakan soal lainnya. Setelah di sekolah hanya tersisa lima belas menit lagi dan bel pun berbunyi. Dan sudahlah aku tidak bisa mengerjakan soal tersebut.
Aku di tegur pak Rizal karena hanya aku yang tak selesai mengerjakan tugas dan di hukum berdiri di depan kelas sampai pelajaran selesai sebagai pelajaran kalau ada tugas janganlah di tunda selagi ada waktu lebih baik kerjakan sekarang.
4. Guru yang Tulus
Namanya Bu Aisyah. Ia merupakan guru yang mengajar di sebuah TK di kampung kami. Ia sudah mengabdikan dirinya secara tulus selama 12 tahun di TK tersebut.
Karena susahnya mencari guru tidak ada yang mau menggantikan beliau meski ia sudah tua.
Ya usianya kini sudah hampir mau 40 tahun namun ia masih bersemangat. Dan suatu ketika ada seorang anak yang BAB di celana anak itu menangis dan di olok-olok oleh teman-temannya.
Namun Bu Aisyah tanpa jijik ia membersihkan anak tersebut dan menenangkannya.
25 tahun kejadian itu telah berlalu. Kini beliau sudah pensiun dan mulai sakit-sakitan. Namun, suatu hari ia kedatangan tamu seorang lelaki tampan dan gagah dan memakai seragam polisi.
Usut punya usut ternyata lelaki tersebut adalah sang murid yang Bu Aisyah dulu bersihkan saat BAB di celana.
Lelaki tersebut selalu mengenang kejadian itu saat yang lain menjauhiku hanya Ibu yang dengan tulus membantuku ia mengucapkan banyak terima kasih.
5. Guruku
Bu Aini adalah seorang guru di sebuah MA Swasta di di sebuah kota Bogor. Ia merupakan seorang guru yang ramah dan di cintai semua muridnya. Ia memiliki wajah yang cantik dan prilaku yang baik.
Usianya kini sudah mau jalan 27 tahun. Namun, belum juga menikah. Di hari guru ia merupakan guru yang paling banyak mendapatkan hadiah karena ia menjadi guru paporit di sekolah tersebut.
5 tahun telah berlalu setelah aku keluar dan lulus dari universitas kedokteran aku mengunjungi sekolah tersebut dan bertemu dangan Bu Aini yang kini telah menjadi janda. Dan rasa kagumku dari dulu tidak pernah berubah.
Dan suatu hari akulah yang menjadi pembimbing bu Aini. Ya, aku menikahinya. Dan ia menerima aku sebagai pendamping hidupnya.
Oh Guruku kau ku kagumi dan aku banggakan. Kisah kami tiada yang menyangka tapi itulah kebenarannya. Seperti novel muridku suamiku.
6. Peringatan Hari Guru Nasional
Pada saat memperingati hari guru nasional. Kami, semua murid wajib memakai seragam dengan atribut yang lengkap, rapi dan juga bersih.
Murid-murid di sekolah semua datang pukul 7 pagi, kami semua berkumpul di aula sekolah dan duduk rapi disana dan sebagian dari kami ada yang tidak kebagian dari tempat duduk, jadi mereka duduk di lantai yang di alasi oleh karpet yang tebal.
Kemudian kepala sekolah pun datang yaitu sekitar pukul 07.30 karena terjebak macet di dekat rumah nya. Maka dia pun lantas segera mengambil mc dan langsung berdiri dengan tegak di hadapan kami semua.
Guru-guru yang lain kemudian duduk di barisan yang paling depan.
Pidato beliau pun dimulai "hari ini adalah hari guru nasional itu artinya, semakin hari waktu semakin berlalu maka kalian semua siswa dan siswi harus semakin rajin selain itu kalian semua harus belajar menghormati guru". kata pak kepala sekolah sambil berdiri dengan tegak.
Kami semua langsung di beri pidato yang cukup panjang yaitu tentang mengenai hari guru nasional.
Selanjutnya kami juga bermain permainan yang seru dengan hadiah bingkisan berisi snack dan minuman ringan dari sekolah.
Acarapun selesai pukul 10 siang, dan kami juga langsung pulang ke rumah dengan hati yang senang tidak lupa kami mengucapkan selamat hari guru karena guru adalah orang tua kedua di sekolah jadi, guru wajib untuk di hargai dan dihormati.
7. Guruku Juga Ibuku
Aku berdiri di panggung itu dengan menerima piala juga sertifikat lomba yang telah ku ikuti. Tampak semua orang memuji atas kemenangan yang ku raih pada lomba melukis tersebut. Aku bisa merasakan kebahagiaanku.
"Pluk." Seperti ada yang memukul pundak, tetapi aku menghiraukannya.
"Shena! Bisa bisanya kamu tidur saat jam kelas. Mimpi apa lagi kamu? Cepat ambil buku matematika dan berdiri di depan papan tulis!" Bu Wina terkenal dengan ketegasannya, jadi wajar bila ia marah melihatku tidur saat jam pelajaran.
Aku maju ke depan sambil menggerutu dalam diam. Huh, mengapa tadi hanya mimpi? Apakah mimpi itu tidak bisa terjadi di hidupku? Sudahlah. Akui saja kenyataannya, aku memang tidak memiliki kelebihan apapun dalam diri sendiri.
Keesokannya, aku dihukum berdiri di tengah lapangan karena tertidur lagi dan tidak mengerjakan tugas. Satu sekolah memandangku dengan tajam ketika waktu istirahat. Aku seperti menjadi pusat perhatian mereka.
Malu? Tidak sama sekali. Sebab ini kesalahanku sendiri. Jam istirahat pun telah usai, kini aku diperbolehkan mengikuti pelajaran selanjutnya. Aku pun mulai memasuki kelas. "Wah, tukang tidur udah datang!" "Eh gimana Shen berdiri di lapangannya? Panas ya, Haha."
"Sepertinya memang pantas panas-panasan di lapangan deh, biar tambah gosong mukanya. Canda ya Shen, jangan baper." Sebenarnya kata-kata tersebut udah terbiasa dilontarkan dari mulut mereka. Dari awal, mereka sudah menjauh dariku.
Tidak ada yang ingin berteman. Memang sakit, tapi marah juga bukan solusi menghadapinya.
Pak Andi pun masuk ke kelas dan memulai pelajaran seni budaya. Kami diberikan tugas untuk melukis. Saat jam pulang sekolah, Pak Andi memberikan hasil dari lukisan kami.
"Jadi, lukisan terbaik yang akan ditempel di madding sekolah adalah lukisan Revana dan Shena. Lukisan kalian semua sudah bagus, tetapi Bapak memilih yang terlihat paling berbakat dalam melukis ya. Sekarang kalian boleh pulang."
Aku bersyukur dan tersenyum mendengarnya. Akhirnya ada guru yang mengapresiasi hasil lukisanku. "Asik, ada yang lukisannya terbaik nih. Hasilnya biasa aja padahal hehe."
Mereka tidak berhenti mengejekku. Aku terdiam dan langsung pulang. Tak tahan, aku menangis seketika.
Hari ini aku dipanggil oleh Bu Wina ke kantor.
"Ada apa ya bu?"
"Jadi gini Shen, kamu itu banyak masalah di kelas. Banyak guru yang bilang, kamu jarang mengumpulkan tugas, suka ketiduran dan sekarang nilai kamu turun dari yang biasanya. Kamu sebenarnya kenapa? Kalau ada masalah bilang ke ibu, Shen."
"Sebenarnya bu, saya ingin banget cerita tapi ngga tau sama siapa. Alasan saya akhir-akhir ini berubah, karena kedua orangtua saya bercerai bu. Saya tinggal bersama Ibu saya, jadi setiap sore juga harus bantu jualan sampai malam. Saya juga selalu dimarahi sama ibu, makanya saya sekarang ngga ada semangat belajar, suka ngantuk dan ngga ngerjain tugas. Saya lelah, bu. Disekolah saya juga sering di bodyshaming, diejek dan ngga ada yang mau berteman sama saya. Saya minta maaf, saya gagal jadi seorang anak, murid dan teman, bu." Air mataku tak sengaja keluar saat menjelaskannya.
Bu Wina langsung memelukku erat. Ia terisak mendengar jawabanku. "Seharusnya Ibu yang gagal menjadi guru, Shen. Ibu ngga mengerti keadaan kalian bagaimana. Ibu juga ngga menduga ternyata murid Ibu suka bullying gini. Ibu akan bicarakan masalah ini kepada pihak sekolah agar mengedukasi murid dan memberi pengertian kepada ibumu ya. Untuk pembelajarannya, Ibu akan memberi waktu tambahan untuk mengajari kamu. Kamu jangan menyerah, Ibu sayang sama kamu, Shena." Suasananya kini menjadi pecah. Ini pertama kalinya aku bisa merasakan kasih sayang walaupun dari seorang guru.
Tetapi saat itu, aku sudah menganggapnya seperti seorang ibu kandung.
Beberapa minggu berlalu. Perlahan, kehidupanku terarah lebih baik. Karena Ibuku sendiri yang sudah tidak memperdulikanku dan sepakat boleh tinggal bersama Bu Wina, maka sekarang aku hidup bersamanya.
Aku bersyukur karena telah dipertemukan oleh seorang guru sekaligus sebagai ibuku dan mau menerimaku menjadi anaknya. Dan dari edukasi sekolah tentang bullying dan bodyshaming kepada murid, kini teman sekelasku mau saling berteman dan meminta maaf kepadaku.
Karena Bu Wina, aku juga mulai bersosialisasi dan berbuat baik kepada orang lain serta termotivasi untuk semangat dalam belajar. Aku juga disuruh oleh Bu Wina melatih bakat melukisku.
Hingga suatu hari, aku membalas jasa Bu Wina dengan membanggakannya karena aku telah memenangkan lomba melukis. Aku mendapatkan juara pertama tingkat nasional. Mimpiku kala itu menjadi nyata.
Dewasa nanti, akan kubuktikan bahwa aku bisa menjadi orang sukses dan membahagiakan Ibu kandungku serta Bu Wina. Akan lebih banyak ku balas jasa kebaikan mereka.
Walaupun Ibu kandungku sendiri sudah menjauh, tetapi ia tetap sebagai orang yang melahirkan serta merawatku sampai sekarang dan guruku sendiri yang merubah menjadi lebih baik.