Harga Karet Palembang

Info Harga Karet Sumsel Hari Ini, Akhir Pekan Harga Karet KKK 100 Persen Turun Rp 28 per Kg

Harga karet hari ini kembali turun, akhir pekan penurunan terjadi pada semua kadar karet kering (KKK). Untuk KKK 100 persen turun Rp 28 per kg.

Penulis: Hartati | Editor: Vanda Rosetiati
DOK TRIBUN SUMSEL
Info harga karet Sumsel hari ini, akhir pekan penurunan terjadi pada semua kadar karet kering (KKK). Untuk KKK 100 persen turun Rp 28 per kg. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Harga karet hari ini kembali turun, pada akhir pekan penurunan harga karet terjadi pada semua kadar karet kering (KKK).

Berdasarkan data Singapore Commodity yang diolah Dinas Perdagangan Provinsi Sumsel bersama Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, harga karet KKK 100 persen pada 28 Oktober dibandrol Rp 18.903 atau turun Rp 28 dibanding harga kemarin 27 Oktober yang dibandrol Rp 18.931.

Turunnya harga karet ini karena memang harga karet dunia turun tipis namun nilai tukar rupiah menguat terhadap dollar sehingga asil akhir perhitungannya harga karet tetap masih lebih rendah.

Turunnya harga KKK 100 persen juga diikuti turunnya juga harga karet kualitas lainnya mulai dari 40-90 persen.

Harga KKK 90 persen dibandrol Rp 17.012 per kg, KKK 80 persen dibandrol harga Rp 15.122 per kg.

Sedangkan untuk KKK 70 persen dibandrol Rp 13.232 per kg, KKK 60 persen diharga Rp 11.341 per kg, KKK 50 persen diharga Rp 9.451 per kg, dan KKK 40 persen diharga Rp 7.561 per kg.

Baca juga: Harga Karet Dunia Sicom SGX Hari Ini Turun, Kurs Dolar Turun, Update Jumat 28 Oktober 2022

Menurut Mirza secara keseluruhan, ada enam faktor yang mempengaruhi harga karet di pasar internasional. Yaitu, nilai tukar mata uang regional terhadap dolar AS.

Apabila penguatan kurs dolar AS menjatuhkan nilai tukar mata uang lain, maka akan berpengaruh terhadap harga karet.

Lalu, penggunaan karet sintetis sebagai competitor karet alam, suplay dan demand karet di pasar karet internasional, perkembangan industri otomotif dan ban. Kemudian faktor cuaca dan hama penyakit.

Produksi Getah Karet Berkurang

Sementara itu Kepala Kelompok Peneliti Pemuliaan Pusat Penelitian Karet Fetrina Oktavia mengatakan harga karet yang terus turun saat ini dikhawatirkan akan membuat semakin banyak petani karet beralih profesi dan beralih mengganti tanaman karet dengan tanaman lainnya.

Seperti halnya saat ini sudah banyak di sejumlah daerah karet diganti menjadi sawit, diganti bawang merah, cabai dan tanaman lainnya.

Padahal diprediksi karet harganya anak kembali membaik pada 2025 mendatang. Oleh sebab itu dia meminta agar petani tetap fokus pada tanaman karet karena jangan sampai nanti saat harga mahal justru negara lain yang menikmati hasilnya.

"Sekarang Thailand produksi karetnya semakin besar jangan sampai nanti saat harga karet bagus justru negera luar yang menikmatinya karena petani sudah mengganti pohon karet dengan tanaman lainnya sehingga devisit karet alam," katanya.

Ketua Umum GAPKINDO, Alex K Edy mengatakan petani semakin lesu mengurus karet sehingga berdampak semakin rendahnya produksi karet alam.

Produksi karet yang terus turun setiap tahun ini dikatakan Alex bisa saja karena harganya yang terus anjlok, getah karet berkurang karena usia pohon tua dan terkena penyakit atau karena memang petani beralih menanam tanaman lainnya.

"Tadinya produksi karet Sumsel bisa lebih dari 1 juta ton per tahun tapi sekarang turun di bawah satu juta bahkan tahun ini dipastikan tidak sampai satu juta ton produksinya padahal Sumsel penyumbang karet alam terbesar di tanah air," kata Alex.

Baca berita lainnya langsung dari google news

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved