Harga Sawit Palembang

Harga Sawit Palembang: Harga Sawit Banyuasin Petani Plasma dan Swadaya Beda, Penjelasan Kadisbunak

Harga sawit Palembang, harga sawit Banyuasin petani plasma dan swadaya berbeda. Kadis Perkebunan dan Peternakan Edil Fitriadi beri penjelasan.

Penulis: M. Ardiansyah | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/M ARDIANSYAH
Harga sawit Palembang, harga sawit Banyuasin petani plasma dan swadaya berbeda. Kadis Perkebunan dan Peternakan Edil Fitriadi beri penjelasan. 

TRIBUNSUMSEL.COM, BANYUASIN - Harga sawit Palembang, harga sawit Banyuasin di petani plasma dan swadaya bisa berbeda. Menyikapi hal ini Kadis Perkebunan dan Peternakan Banyuasin Edil Fitriadi, Selasa (4/10/2022) memberikan penjelasannya.

Menurutnya perkebunan sawit yang ada di wilayah Banyuasin, saat ini semuanya masih sangat produktif untuk menghasilkan TBS berkualitas terutama untuk perkebunan plasma dan juga perkebunan swadaya masyarakat.

Menurut Edil, saat ini lahan perkebunan sawit di luar perusahaan masih sangat produktif menghasilkan TBS

"Untuk lahan plasma seluas 34.313.35 hektare, sedangkan untuk lahan swadaya seluas 27.536 hektare. Semuanya masih sangat produktif, tidak ada lahan yang tidur atau tidak menghasilkan," katanya.

Karena lahan plasma maupun lahan swadaya masih sangat produktif, sehingga ini menjadi perhatian sendiri dari dinas Perkebunan dan Peternakan Banyuasin.

Terutama untuk lahan swadaya yang dimiliki masyarakat. Lahan swadaya masyarakat, menjadi perhatian terlebih terkait harga. Karena, biasanya, harga antara perkebunan plasma dengan harga swadaya akan jauh berbeda.

"Ini yang jadi perhatian kami dan saat ini sedang kami programkan bagaimana bisa menyamakan antara harga perkebunan plasma dengan swadaya. Upaya ini, bertujuan agar TBS yang dihasilkan lahan swadaya bisa sama dengan plasma," ungkapnya.

Menurut Edil, keunggulan dari perkebunan plasma lantaran sudah melakukan MOU dengan pihak perusahaan.

Sehingga, harga yang diberikan ke petani plasma sesuai harga yang ditentukan berdasarkan hasil rapat dari dinas pertanian dengan asosiasi.

Sedangkan untuk petani swadaya, sama sekali tidak ada MOU. Sehingga, harga yang diterima terkadang memang akan sedikit berbeda dari harga petani plasma. Hal inilah, yang perlu didorong sehingga harga antara plasma dan swadaya bisa seragam.

Padahal, dari sisi kualitas buah menurut Edil tidak ada perbedaan jauh dengan petani plasma. Namun, karena adanya perbedaan harga ini biasanya petani swadaya akan lebih malas untuk melakukan perawatan terhadap lahan dari sawit mereka.

"Saat ini, akan kami diupayakan untuk persamaan harga bagi petani swadaya. Bila harga sama, maka petani dari swadaya juga bisa merasakan harga yang ditentukan pemerintah. Untuk bisa terlaksana, ada langkah-langkah yang akan ditempuh terutama untuk mengumpulkan semua perusahaan di wilayah Banyuasin," pungkasnya.

Baca berita lainnya langsung dari google news

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved