Berita Nasional
UPDATE Dedi Mulyadi Dicerai Anne Ratna Mustika Bupati Purwakarta, Sidang Perdana Digelar 5 Oktober
gugatan cerai yang dilayangkan Anne Ratna Mustika ke Dedi Mulyadi terdaftar di Pengadilan Agama Purwakarta dengan nomor surat 1662/Pdt.G/2022/PA.Pwk p
Diketahui, Bupati Purwakarta melayangkan gugatan cerai terhadap suaminya Dedi Mulyadi, anggota DPR RI dari Fraksi Golkar.
Gugatan cerai Anne tercatat di Pengadilan Agama Purwakarta tanggal 19 September 2022.
Respons Golkar dan Pengamat
Ketua DPD Golkar Jabar, Ace Hasan Syadzily, merespons kabar Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika yang menggugat suaminya Dedi Mulyadi.
Mengetahui kabar tersebut, Ace mengatakan partainya tak ingin ikut campur masalah pribadi.
Baca juga: Profil Anne Ratna Mustika, Bupati Purwakarta yang Gugar Cerai Dedi Mulyadi, Anggota DPR RI
Baik Anne dan Dedi Mulyadi diketahui merupakan kader Partai Golkar.
"Kami tidak ingin mencampuri urusan domestiknya Ibu Anne Ratna Mustika, Bupati Purwakarta, dengan suaminya Pak Dedi Mulyadi," katanya, dikutip Tribunnews.com dari Tribunjabar.id.
"Kedua-duanya merupakan kader partai Golkar. Yang terpenting bagi kami, kedua-duanya memiliki jabatan publik yang strategis," lanjutnya.
Ace pun berharap, permasalahan Anne Ratna Mustika dan Dedi Mulyadi tak mengganggu kepentingan publik dan masyarakat.
Sementara itu, menurut Pengamat Politik Unpad, Firman Manan, gugatan cerai Anne terhadap suaminya ini dimungkinkan berdampak ke karier politik keduanya.
Firman menjelaskan, ada dua pengaruh gugatan cerai yang dilayangkan Bupati Purwakarta.
"Sebetulnya bisa ada dua kemungkinan, pertama tidak ada pengaruh, kalau kemudian publik melihat ini sebagai masalah domestik yang tidak terkait langsung dengan soal politik atau kinerja sebetulnya," kata Firman Manan.
Tetapi, lanjut Firman, hal itu bisa berpengaruh jika publik mengasosiasikan dukungan terhadap Anne karena terasosiasi dengan Dedi Mulyadi, dilansir Tribun Jabar.
"Sehingga ketika ada masalah walaupun secara domestik, bisa berpengaruh terhadap preferensi publik, karena memang saat ini, bukan hanya di Indonesia kecenderungan di dunia itu ada yang namanya personalisasi politik."
"Jadi, isu domestik atau privat itu berpengaruh terhadap preferensi publik," jelasnya.
(Tribunnews.com/Suci Bangun DS, TribunJabar.id/Ichsan/Deanza Falevi/Muhamad Nandri Prilatama)
Baca berita lainnya di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Sosok-Dedi-Mulyadi.jpg)