Berita Internasional

'Situasi Mengkhawatirkan' Ilmuwan Beberkan Efek Mengerikan Dari Serangkaian Gelombang Panas Ekstrem

Para ilmuwanpun mengungkapkan sejumlah efek mengerikan dari serangkaian gelombang panas ekstrem.

Editor: Slamet Teguh
TRIBUN MEDAN/DEDY SINUHAJI
Ilmuwan Beberkan Efek Mengerikan Dari Serangkaian Gelombang Panas Ekstrem 

Tapi gelombang panas laut juga bisa memiliki konsekuensi serius bagi negara-negara yang berbatasan dengan Mediterania dan lebih dari 500 juta orang yang tinggal di sana jika tidak segera ditangani, kata para ilmuwan.

Stok ikan akan habis dan pariwisata akan terdampak, karena badai yang merusak bisa menjadi lebih umum di darat.

Meskipun mewakili kurang dari 1 persen dari luas permukaan laut global, Mediterania adalah salah satu reservoir utama keanekaragaman hayati laut, yang mengandung antara 4 persen dan 18 persen dari spesies laut yang dikenal di dunia.

Beberapa spesies yang paling terpengaruh adalah kunci untuk mempertahankan fungsi dan keanekaragaman habitat laut.

Spesies seperti padang lamun Posidonia oceanica, yang dapat menyerap sejumlah besar karbon dioksida dan melindungi kehidupan laut, atau terumbu karang, yang juga merupakan rumah bagi satwa liar, akan terancam.

Garrabou mengatakan dampak kematian pada spesies diamati antara permukaan dan kedalaman 45 meter, di mana gelombang panas laut yang tercatat luar biasa tinggi.

Gelombang panas mempengaruhi lebih dari 90 persen permukaan Laut Mediterania.

Menurut makalah ilmiah terbaru, suhu permukaan laut di Mediterania telah meningkat sebesar 0,4 derajat Celcius setiap dekade antara tahun 1982 dan 2018.

Pada basis tahunan, telah meningkat sekitar 0,05 derajat Celcius selama dekade terakhir tanpa tanda-tanda menyerah.

Bahkan pecahan derajat dapat memiliki efek buruk pada kesehatan laut, kata para ahli.

Daerah yang terkena dampak juga telah berkembang sejak tahun 1980-an dan sekarang mencakup sebagian besar Mediterania, menurut penelitian tersebut.

"Pertanyaannya bukan tentang kelangsungan hidup alam, karena keanekaragaman hayati akan menemukan cara untuk bertahan hidup di planet ini," kata Garrabou.

"Pertanyaannya adalah jika kita terus ke arah ini, mungkin masyarakat kita, manusia, tidak akan memiliki tempat tinggal."

(Tribunnews.com/Rica Agustina)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved