Harga Sawit Palembang

Harga Sawit Palembang: APKASINDO Tawarkan Solusi Ini Agar Harga Sawit di Sumsel Tetap Stabil

Harga sawit Palembang, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) berencana membangun Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dalam waktu dekat.

Penulis: Hartati | Editor: Vanda Rosetiati
DOK TRIBUN SUMSEL
Harga sawit Palembang, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) berencana membangun Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dalam waktu dekat solusi agar harga sawit di Sumsel stabil. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Harga sawit Palembang, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) berencana membangun Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Sumsel dalam waktu dekat dinilai bisa menjadi solusi mengatasi harga kelapa sawit yang anjlok di tingkat petani.

Meski pembangunan pabrik sawit ini solusi jitu, namun Kepala Dinas Perkebunan Sumsel Agus Darwa mengatakan ada hal lain yang perlu diperhatikan agar harga sawit Palembang tetap stabil.

Sebab jika tidak diperhatikan dengan baik tetap saja masalah harga sawit Palembang dan tandan buah sawit (TBS) tidak stabil akan terus berulang.

Hal yang harus diperhatikan agar harga sawit di Sumsel stabil itu yakni standar pengolahan minyak merah atau CPO yang dibuat apakah sama standarnya dengan kebutuhan CPO domestik atau ekspor. Sebab jika tidak sama maka tetap akan jadi masalah.

"Standarnya harus sama dengan yang dibutuhkan pasar jangan asal bangun saja karena memang bisa jadi solusi di tingkat petani namun mata rantainya kan panjang bukan cuma di tingkat petani saja, kalau hasil CPO tidak sesuai atau tidak standar sama saja, tangki pabrik penuh dan tidak bisa dijual, ujung-ujungnya pabrik tidak bisa membeli TBS lagi dan harga akan tetap anjlok," ujar Agus, Senin (8/8/2022).

Baca juga: Harga Karet di Lubuklinggau Sumsel, Sudah Seminggu Turun Rp 8,5 ribu per kilogram

Agus juga mengatakan sebenarnya harga sawit di tingkat petani mandiri juga tidaklah terlalu buruk karena hanya selisih ratusan rupiah saja dari harga yang dirilis Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, namun harga anjlok bahkan di bawah Rp 1.000 per kg pada tingkat petani.

Dia mengatakan penyebabnya adalah karena "permainan" tengkulak yang membeli dengan harga jauh di bawah harga yang sudah ditetapkan pemerintah.

Tengkulak pastinya ingin untuk dan juga sudah tahu standar harga sawit tersebut misalnya kualitas buah tidak merata atau tidak sesuai standar, jarak panen ke kebun terlalu jauh dan akses jalan rusak.

Buah yang rontok juga dihargai lebih murah dibanding buah utuh yang masih melekat pada tanda sawit.

Baca berita lainnya langsung dari google news

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved