Ibadah Haji 1443 H

Pergi Haji untuk Ibadah Bukan Kamping, Petugas Ingatkan CJH Jangan Bawa Terasi Hingga Ulekan

Sebut saja terasi, masih banyak calon jemaah haji yang membawa penganan busuk tapi nikmat itu. Alasannya agar menggugah selera makan hingga alasan la

Editor: Siemen Martin
KOMPAS.COM/ MUHAMAD SYAHRI ROMDHON
Andika, sedang membuat cetakan cobek, alat tradisional untuk menghaluskan bumbu dapur, di Kampung Cobek, Desa Sinarancang 

TRIBUNSUMSEL.COM - Kebiasaan umat muslim Indonesia yang pergi berhaji membawa bekal. Baik itu makanan maupun peralatan yang tak penting.

Sebut saja terasi, masih banyak calon jemaah haji yang membawa penganan busuk tapi nikmat itu.

Alasannya agar menggugah selera makan hingga alasan lainnya.

Ingat, berangkat haji itu menunaikan rukun islam untuk ibadah bukan kamping.

Kepala Seksi Informasi dan Dokumen Haji, Dewi Rosaria Indah mengingatkan, para jamaah tidak membawa perlengkapan memasak maupun bahan-bahan makanan seperti sambal, terasi hingga ulekan.

"Urusan makan tiga kali sehari sudah disiapkan. Apalagi ini masih pandemi, jamaah di Arab Saudi secara global dikurangi dari 2,5 juta menjadi 1 juta jamaah saja," ujar Dewi.

Dengan berkurangnya jumlah jamaah di Tanah Suci kata Dewi, maka pengelolaan ibadah haji dipastikan bisa lebih maksimal termasuk soal ketersediaan makanan.

Terkait barang bawaan, kata Dewi, jamaah disarankan mengisi koper hanya 14 kilogram saja dari batas maksimal 32 kilogram.

Ini dilakukan agar saat kepulangan, jamaah masih memiliki ruang bagasi yang cukup untuk belanja saat kepulangan.

"Kalau berangkat saja sudah penuh barang bawaan, nanti pulang gak ada lagi tempatnya," ujar Dewi. 

Artikel ini telah tayang di Kompas

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved