Liputan Khusus Tribun Sumsel

LIPSUS: Bingung Bayar Kredit Mobil, Petani Resah Harga Sawit Terjun Bebas (1)

Beberapa petani yang membeli mobil secara kredit, kebingungan dengan turunnya harga sawit yang tiba-tiba. Terlebih, harus membayar kreditan mobil.

Editor: Vanda Rosetiati
DOK TRIBUN SUMSEL
Petani resah harga sawit terjun bebas. Harga sawit yang tiba-tiba turun drastis beberapa pekan terakhir ini membuat petani yang sudah membeli khususnya kredit mobil waswas bagaimana akan membayar angsuran kreditan. 

Sekretaris Desa Daya Utama A Subdyo SP menuturkan, petani di Kecamatan Muara Padang sudah mengambil langkah untuk membentuk Asosiasi Petani Sawit Jalur. Dengan adanya asosiasi ini, setidaknya dapat mengakomodir keluhan petani.

"Sekarang, harga sawit kisaran Rp 1.300 sampai Rp 1.500 per kg. Padahal, sebelumnya harga sawit Rp 3.000 bahkan Rp 3.500 per kg. Ini yang jadi dilema, karena saya juga petani," ujarnya.

Lanjut Subdyo, di desanya juga saat harga sawit tinggi banyak warga yang membeli maupun kredit mobil. Berbagai jenis mobil yang di beli mulai dari Pajero, Fortuner, Innova, double cabin hingga pickup. Namun, yang jadi permasalahan muncul di warga membeli mobil dengan cara kredit.

Agar mobil tak ditarik dealer, menurut Subdyo ada warga yang sampai membuat mobil tersebut dijadikan travel. Hal ini, untuk membantu pembayaran kredit mobil.

"Kalau beli mobil seperti Innova, Rush atau yang sejenis minibus ada mulai ada dijadikan travel. Tetapi, yang kredit pickup hanya bisa digunakan untuk mengangkut barang. Makanya, ada yang mulai juga selain mengangkut sawit juga disewakan untuk mengangkut barang," katanya.

Padahal, harga sawit yang ditetapkan pemerintah Rp 3.300 per kg. Namun, kenyataannya harga sawit di lapangan yang dibeli di kalangan pengepul kisaran Rp 1.300 sampai Rp 1.500 per kg.

Dari itulah, mereka ingin membentuk Asosiasi Petani Sawit Jalur. Dengan harapan bisa mengakomodir keluhan dan juga membuat harga sawit bisa bertahan serta tak terjun bebas.

"Sudah pernah berdiskusi yang langsung di pimpin Camat, langkahnya membentuk Asosiasi Petani Sawit Jalur. Selain bisa mengakomodir petani, nantinya bisa juga ke kabupaten atau provinsi untuk koordinasi. Termasuk juga mungkin nanti ke Gapkindo," pungkasnya.

Bangun Rumah dari Sawit

Sebelum harga sawit jatuh, berkah dari tingginya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit juga dirasakan para petani di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara). Harga buah sawit di tingkat petani di daerah ini sempat menyentuh harga tertinggi dalam sejarah mencapai Rp 3.500 per kilogram (kg).

Melambungnya harga buah penghasil minyak tersebut membuat perekonomian petani meningkat. Dari hasil panen buah sawit setiap dua pekan, banyak petani di daerah ini membangun rumah megah dan membeli mobil mewah.

Seperti yang dialami Irman, petani sawit di Kecamatan Karang Dapo, Muratara, mengaku ketiban rejeki berlimpah dari sawit. Ia kini tengah membangun rumah permanen cukup megah berukuran 8x12 meter persegi.

"Ahamdulillah waktu harganya tinggi beberapa waktu lalu bisa menyisihkan tabungan, rumah yang saya bangun ini alhamdulillah hasil dari sana (sawit). Bukan cuma saya, warga lain juga di sini yang ada kebun sawit bernasib sama, ada yang bangun rumah juga, beli mobil," kata Irman, Sabtu (14/5/2022).

Ia mengungkapkan memiliki perkebunan sawit lebih kurang seluas 5 hektare. Ia panen dua kali dalam sebulan. Setiap kali panen bisa mencapai 3 ton kadang lebih bila sawitnya tidak dilanda trek atau musim dimana terjadi penurunan produksi buah sawit masak.

"Kadang dapat tiga ton, kalau hasil itu tergantung dari kondisi juga, kalau musim trek, buahnya berkurang, kalau tidak trek kadang lebih tiga ton. Saya panen dua minggu sekali, kalau panen tiga ton saja sebulan enam ton, kalikan harga tiga ribuan saja sudah 18 juta sebulan," katanya.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved