Rusia Invasi Ukraina

Komandan Perang Ukraina Tolak Menyerah, Pasukan Kalah Jumlah 1 Banding 10 : Ini Pesan Terakhir Kami

Lantas beredar sebuah video, 'pesan terakhir' yang diucapkan Mayor Serhiy Volyna, komandan benteng terakhir pasukan Ukraina di sebuah pabrik baja ters

Editor: Moch Krisna
(Tangkap layar The Sun)
Mayor Serhiy Volyna, komandan benteng terakhir pasukan Ukraina di sebuah pabrik baja. 

TRIBUNSUMSEL.COM -- Beredar video pesan terakhir komandan pasukan ukraina di Mariupol bertahan dari serangan tentara Rusia,

Diketahui pasukan Vladimir Putin terus menyerbupabrik besi dan baja Azovstal di wilayah tersebut, di mana di lokasi tersebut pasukan terakhir Ukraina dan warga sipil bertahan.

Mereka yang bertahan menggunakan terowongan bawah tanah untuk melakukan pertahanan terakhir.

Para martir Mariupol tersebut telah bersumpah untuk berjuang sampai mati dalam pertempuran dengan Rusia.

Lantas beredar sebuah video, 'pesan terakhir' yang diucapkan Mayor Serhiy Volyna, komandan benteng terakhir pasukan Ukraina di sebuah pabrik baja tersebut.

Di tengah kepungan dirinya mengatakan pasukan tidak akan menyerah meskipun ada ledakan tanpa henti oleh pasukan Rusia.

Mayor Volyna bersikeras pasukannya di pabrik itu tidak akan meletakkan senjata kita, meskipun kalah dalam jumlah yakni sepuluh banding satu.

Dalam sebuah video yang mengerikan, dia memperingatkan itu bisa menjadi "pesan terakhir" mereka ketika pasukan Rusia mengepung daerah itu dan melepaskan rentetan tembakan terus-menerus, dikutip dari The Sun.

"Ini adalah seruan kami kepada dunia. Ini bisa menjadi pesan terakhir kami," katanya.

"Kami mungkin menghadapi hari-hari terakhir kami."

“Musuh kami melebihi jumlah yakni 10 banding satu. Mereka memiliki keunggulan di udara, dalam artileri, dalam pasukan mereka di darat, dalam peralatan dan di tank."

"Kami hanya mempertahankan satu objek pabrik Azovstal, di mana selain personel militer ada juga warga sipil yang menjadi korban perang."

Dia juga mengeluarkan seruan bagi para pemimpin dunia untuk membantu mengevakuasi warga yang terluka dari kota Mariupol, di mana sebagian besar telah menjadi puing-puing oleh serangan udara dan artileri yang konstan.

"Kami mengimbau dan memohon kepada semua pemimpin dunia untuk membantu kami," tambahnya.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved