Berita Lubuklinggau

Viral Bocah SD Dianiaya Pengelola Rumah Makan di Lubulinggau, Wajah Luka Robek dan Lebam

Gibran seorang bocah berusia 12 tahun di Kota Lubuklinggau, Sumsel menjadi korban penganiayaan.

Penulis: Eko Hepronis | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/EKO HEPRONIS
Ketua RT 12 Kelurahan Senalang Kecamatan Lubuklinggau Utara, Lubuklinggau saat menunjukkan foto korban pasca dianiaya seorang pengelola rumah makan di Lubuklinggau, Rabu (23/3/2022). 

TRIBUNSUMSEL.COM, LUBUKLINGGAU - Gibran seorang bocah berusia 12 tahun di Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan (Sumsel) menjadi korban penganiayaan.

Warga Jl Kenanga, RT 12 Kelurahan Kenanga, Kecamatan Lubuklinggau Utara II ini terpaksa harus dilarikan ke Rumah Sakit AR Bunda diduga karena dianiaya Anton (40) pengelola Rumah Makan Lintas Raya.

Akibatnya bocah kelas VI SD ini harus menjalani perawatan serius, karena mengalami sejumlah luka lebam di bagian wajah, bibir dan harus mendapat jahitan di dekat matanya.

Aksi penganiayaan anak-anak ini sempat viral di media sosial Kota Lubuklinggau, bahkan, karena tak terima pihak keluarga sudah melaporkan kejadian itu ke Polres Lubuklinggau untuk ditindak lanjuti.

Loso Uwak korban menuturkan kejadian bermula, Selasa (22/3/2022) kemarin saat Gibran bersama dengan lima orang temannya bermain di belakang rumah Makan Lintas Raya tepatnya di RT 11 tak jauh dari rumahnya.

Lokasi mereka bermain berada di atas bukit, sementara lokasi Rumah Makan Lintas Raya berada di bawahnya.

Saat itu kelima temannya bermain lempar-lempar batu, sedangkan Gibran tidak ikut melempar. Lemparan para temannya itu ternyata mengenai atap rumah makan Lintas Raya.

"Saat itu temannya yang melempar batu kena seng rumah makan, mendengar seng rumah makan tempatnya bekerja pelaku (Anton) langsung naik ke atas, mencari pelaku" ungkap Loso pada Tribunsumsel.com, Rabu (23/2/2022).

Saat tiba di atas pelaku hanya menemukan Gibran, karena Gibran merasa tidak ikut melempar, sementara lima temannya yang melakukan aksi pelemparan langsung kabur melarikan diri.

"Kemudian Anton langsung memukul korban, setelah dipukul-pukul karena tidak, Gibran dibawa pelaku ke rumah ketua RT, karena berdebat suasana ramai petugas polisi lewat," ujarnya.

Oleh polisi tersebut Gibran langsung dibawa ke rumah sakit, sementara pelaku dibawa ke Polres Lubuklinggau, dapat informasi itu pihak keluarga langsung menyusul ke Polres untuk melapor.

"Tidak lama ada pihak keluarga datang untuk meminta damai diselesaikan secara kekeluargaan, mereka minta supaya jangan sampai ke ranah hukum," ungkapnya.

Namun, karena Loso tidak mempunyai wewenang untuk memutuskan, akhirnya Loso bertanya kepada ibu Gibran Herawati, Herawati pun langsung menelpon suaminya Masarul.

Akhirnya karena ayahnya sedang sakit dan meminta kepada Loso untuk diselesaikan secara kekeluargaan.

"Kalau damai belum secara tertulis, kalau lisan sudah, karena mereka tanggung jawab mengobati, kalau pun harus damai harus melibatkan pihak Polres karena kami sudah melapor," ujarnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved