Berita OKI
Pure Puseh Darma Sari Desa Lubuk Seberuk OKI Tiadakan Pawai Ogoh-ogoh, Hari Raya Nyepi 2022
Pure Darma Sari merupakan salah satu Pure terbesar di OKI sudah tiga tahun meniadakan Pawai Ogoh-ogoh.
Penulis: Winando Davinchi | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG - Menjelang Hari Raya Nyepi yang akan jatuh 3 Maret 2022 hari Kamis mendatang, berbagai persiapan upacara adat telah dilakukan umat Hindu di seluruh Indonesia.
Tidak terkecuali Pemangku Adat di Pure Puseh Darma Sari Desa Lubuk Seberuk I, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir.
Pure Darma Sari merupakan salah satu Pure terbesar di Bumi Bende Seguguk. Pure ini dapat menampung sekitar 136 kepala keluarga (KK) atau ratusan jemaat.
"Memang di sini menjadi pusat ibadah yang membawahi 7 pure kecil di Kecamatan Lempuing Jaya. Jadi saat acara besar seperti Nyepi ini ratusan warga berbaur dan berkumpul disini," ujar Ketua Adat Pure Puseh Darmasari, Made Kisna saat ditemui, Senin (28/2/2022) pagi.
Dijelaskan sudah 3 tahun terakhir pawai ogoh-ogoh yang menjadi tradisi perayaan Hari Raya Nyepi ditiadakan.
Pelarangan Pawai Ogoh-ogoh itu diputuskan mengingat di kabupaten OKI situasinya masih pandemi Covid-19. Maka lebih baik ditiadakan agar tidak terjadi cluster penyebarannya.
"Benar sudah tahun ketiga tidak adanya Pawai Ogoh-ogoh. Karena pengarakah seperti ini bukan merupakan rangkaian wajib Hari Suci Nyepi," ungkapnya.
Selain itu, rangkaian kegiatan Melasti, Tawur Kasanga serangkaian Nyepi yang jatuh pada 2-3 Maret 2022 itu dilaksanakan dengan memperhatikan sejumlah hal.
"Tadi kita juga sudah selesai melangsungkan upacara melasti di campuhan (Pura muara) dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan dan pembatasan jumlah peserta," tutur dia.
Baca juga: BMKG Imbau Warga Waspadai Cuaca Ekstrim di Sumsel, Siang Hari Akan Terasa Lebih Gerah
Masih kata Made, selanjutnya dilanjutkan upacara Tawur Agung Kesanga yaitu upacara Bhuta Yadnya yang dilakukan untuk kesejahteraan dan keselarasan alam.
"Dalam upacara ini umat Hindu melaksanakan beberapa ritual yang memiliki arti-arti tersendiri yaitu Gebogan adalah sesajen bersusun buah-buahan dan bunga. Gebogan merupakan simbolik rasa syukur atas berkat yang telah diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi Tuhan," terang Made.
Terakhir seluruh umat Hindu akan menjalani mesti mematuhi empat brata penyepian yaitu amati geni (tidak menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian) dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan).
"Pelaksanaannya berlangsung selama 36 jam dari jam 06.00 – 18.00 di keesokan harinya. Tidak makan dan tidak minum selama 24 jam dari jam 06.00 – 06.00,"
"Apabila sudah 12 jam maka diperbolehkan untuk makan dan minum dengan syarat bahwa nasi yang dimakan ialah nasi putih dengan garam," tutupnya.
Baca berita lainnya langsung dari google news.