Berita Ogan Ilir

Mengenal Sosok Puyang Meranggi, Penyebar Agama Islam dan Leluhur Penduduk Desa Kelampadu Ogan Ilir

Setiawan mengisahkan, Puyang Meranggi merupakan seorang tokoh sentral dan tokoh leluhur masyarakat asli Desa Kelampadu.

Tayang:
Penulis: Agung Dwipayana | Editor: Weni Wahyuny
TRIBUNSUMSEL.COM/AGUNG DWIPAYANA
Seorang warga berdiri dekat napak tilas makam Syekh Jamak bin Syekh Abdul Quraisyin atau Puyang Meranggi di seberang Sungai Ogan wilayah Desa Kelampadu, Kecamatan Muara Kuang, Ogan Ilir. 

TRIBUNSUMSEL.COM, INDRALAYA - Nama Desa Kelampadu mungkin tidak begitu familiar bagi masyarakat khususnya di Sumatera Selatan.

Namun siapa sangka, desa ini dulunya merupakan tempat penyebaran Islam oleh ulama besar yakni Puyang Meranggi yang memiliki nama Syekh Jamak bin Syekh Abdul Quraisyin.

Maka ketika berbicara mengenai sejarah Desa Kelampadu, tidak dapat dipisahkan dari sejarah Puyang Meranggi.

Informasi mengenai Puyang Meranggi ini disampaikan seorang akademikus, putra asli Kelampadu bernama Muhamad Setiawan.

Pemuda 21 tahun ini juga merupakan Ketua Komunitas Pecinta Ziarah Palembang Darussalam dan Sumatera Selatan (KOPZIPS).

Setiawan mengisahkan, Puyang Meranggi merupakan seorang tokoh sentral dan tokoh leluhur masyarakat asli Desa Kelampadu.

"Puyang Meranggi itu sebuah julukan, di mana 'Puyang' berarti leluhur dan 'Meranggi' yang berarti sebuah sebutan untuk orang yang berprofesi sebagai pembuat warangka keris," kata Setiawan kepada TribunSumsel.com, Minggu (23/1/2022).

Berdasarkan berbagai sumber di Desa Kelampadu, kata Setiawan, selain memiliki nama nama asli Syekh Jamak bin Syekh Abdul Quraisyin, Puyang Meranggi juga memiliki beberapa nama julukan lain seperti Ki Jabaranti dan Kiai Jabar.

"Dari nama dan julukan tersebut, jelas membuktikan kalau beliau merupakan orang yang alim dalam ilmu agama Islam atau seorang tokoh ulama. Bahkan sampai kepada derajat aulia atau wali," jelas Setiawan.

Mengenai kelahiran Puyang Meranggi, lanjut Setiawan, belum ditemukan data yang pasti dari berbagai sumber.

Namun Puyang Meranggi hidup di kisaran tahun 1800 hingga 1850 Masehi atau sekitar 150 hingga 200 tahun yang lalu.

Perjalanan hidup dan perjalanan dakwah Puyang Meranggi atau Syekh Jamak dimulai ketika ayah beliau yang bernama Syekh Abdul Quraisyin yang konon kabarnya seorang ulama berdarah keturunan Bani Abdul Mutholib (bukan habaib atau bukan alawiyyin) yang lahir dan berasal dari Hadramaut, Yaman.

Syekh Abdul Quraisyin melakukan hijrah dari Yaman menuju Sulawesi dan beliau tinggal serta berdakwah di sana hingga akhir hayatnya.

Syekh Abdul Quraisyin memiliki seorang istri orang Jawa asal Tegal Wangi dan kemudian dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai seorang anak bernama Syekh Jamak.

"Dan kemungkinan besar Syekh Jamak atau Puyang Meranggi dilahirkan di tanah Sulawesi. Lalu ketika remaja, Syekh Jamak hijrah dari sulawesi menuju tanah asal ibundanya yaitu Tegal Wangi dan kemudian beliau mempersunting wanita dari tempat asal ibunya," papar Setiawan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved