Berita OKI

Susun Rencana Perlindungan & Pengelolaan Ekosistem Gambut, Lahan Gambut OKI Berpotensi Karhutla

Susun Rencana Perlindungan & Pengelolaan Ekosistem Gambut, Lahan Gambut OKI Berpotensi Karhutla

Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Siemen Martin
TRIBUNSUMSEL.COM/WINANDO
Kebakaran lahan di perusahaan PT. Rambang Agro Jaya yang berada di Desa Cinta Jaya Kecamatan Pedamaran Kabupaten Ogan Komering Ilir yang saat ini masih dalam proses Pemadaman. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) memulai proses penyusunan dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (RPPEG).

Salah satunya dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) melalui Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI)

Sebab Kabupaten OKI merupakan salah satu daerah yang rawan terjadi karhutla. Sejak 2014 hingga 2020, peristiwa karhutla kerap terjadi di OKI.

Karhutla terbesar terjadi pada 2015, saat 316.472 hektare hutan dan lahan di OKI terbakar. Peristiwa ini mendorong Presiden Joko Widodo mengecek langsung lokasi terjadinya karhutla.

Berdasarkan data DLHP Sumsel, luas ekosistem gambut di Sumsel mencapai 2,09 juta ha yang tersebar di tujuh wilayah. Dari total luasan tersebut, sebanyak 1,03 juta ha atau 49,28 persen berada di Kabupaten OKI.

Hadirnya RPPEG menjadi hal yang krusial dan mutlak bagi Kabupaten OKI, sebab OKI sebagai kabupaten yang memiliki lahan gambut terluas di Sumsel.

Dalam sambutan yang dibacakan oleh Staf Ahli Bupati Kabupaten OKI, Cholid Hamdan, SE, Bupati Kabupaten OKI, H. Iskandar, SE, menyampaikan, Pertemuan awal yang mempertemukan parapihak untuk penyusunan RPPEG ini dirasakan sangat penting bagi Kabupaten OKI.

"Sebagai rangkaian dari proses pembangunan di Kabupaten OKI, diharapkan proses kegiatan ini juga dapat bersinergi dengan program-program pengelolaan lahan gambut yang lainnya," katanya saat Lokakarya Pendahuluan Penyusunan RPPEG Kabupaten OKI di Hotel Wyndham OPI, Kamis (11/11/2021).

Sedangkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten OKI, Aris Panani melalui paparan yang disampaikan oleh Kasi Pengendalian Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Kabupaten OKI, Hidayat juga mengatakan, dengan disusunnya RPPEG ini semoga ada data potensi luas dan sebaran lahan gambut, sehingga dalam pengambilan kebijakan di Pemerintah Kabupaten OKI bisa lebih memperhatikan adanya sebaran ekosistem gambut.

"Karena lahan gambut merupakan potensi sekaligus ancaman bagi kebakaran hutan dan lahan di kabupaten OKI. Harapannya, dengan adanya penyusunan RPPEG ini dapat melestarikan fungsi ekosistem gambut dan mencegah terjadinya kerusakan ekosistem gambut yang dilakukan secara sistematis, sehingga dapat menjamin kelestarian ekosistem gambut," katanya.

Menurutnya, Lokakarya pendahuluan penyusunan RPPEG ini merupakan langkah persiapan dan kelanjutan dari proses penyusunan RPPEG Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Harapannya, para pemangku kepentingan yang hadir dapat memahami prosedur penyusunan RPPEG di tingkat kabupaten yang menjadi dasar dalam proses implementasi penyusunan RPPEG, serta terkumpulnya masukan dan partisipasi aktif dari para
pihak.

Penyusunan dokumen RPPEG merupakan amanat Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2014 sebagaimana telah diubah dengan PP Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut.

PP tersebut memberikan mandat kepada Menteri, Gubernur, dan Bupati/Walikota untuk menyusun dan menetapkan RPPEG sesuai kewenangannya.

Dokumen RPPEG memuat rencana jangka panjang pengelolaan dan perlindungan lahan gambut untuk 30 tahun ke depan. Dokumen ini memuat komitmen perlindungan awal bagi lahan gambut dari kerusakan, dan degradasi lahan.

Sebagai informasi, lokakarya ini dilaksanakan secara luring dan daring yang merupakan langkah awal Pemerintah Kabupaten OKI untuk membangun komitmen pelestarian lahan gambut melalui penyusunan RPPEG.

Kegiatan ini didukung oleh World Agroforestry (ICRAF) dan Forum DAS Sumsel melibatkan berbagai pemangku kepentingan di Kabupaten OKI, khususnya yang terkait dengan pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan ekosistem gambut.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved