Jokowi 'Turun Tangan', Kasus Pemerkosaan 3 Anak di Luwu Timur, Polri Didorong Buka Penyelidikan
"Walaupun kasus telah berlangsung pada tahun 2019, dan penyelidikan telah dihentikan oleh Polres, KSP berharap agar Polri membuka ulang proses penyeli
TRIBUNSUMSEL.COM -- Heboh kasus pemerkosaan tiga anak kandung oleh ayah di Luwu Timur Sulawesi Selatan sampai ke telinga presiden Jokowi
Jokowi lewat Deputi V Kantor Satf Presiden (KSP) Kalswari Pramodhawardani mendorong Polri kembali membuka proses penyelidikan kasus
Sebab, kasus tersebut melukai nurani dan rasa keadilan masyarakat.
Menurut Jaleswari, meski kasus it terjadi pada tahun 2019, namun Polri diharapkan membuka ulang proses penyelidikannya.
"Walaupun kasus telah berlangsung pada tahun 2019, dan penyelidikan telah dihentikan oleh Polres, KSP berharap agar Polri membuka ulang proses penyelidikan kasus tersebut," kata Jaleswari dilansir Kompas.com, Jumat (8/10/2021).
Menunurutnya, kasus tersebut telah melukai nurani dan rasa keadilan masyarakat.
"Peristiwa perkosaan dan kekerasan seksual kepada anak ini sangat melukai nurani dan rasa keadilan masyarakat," tandasnya.
Menurut Jaleswari, Presiden Joko Widodo sangat tegas dan tidak menolerir predator seksual anak. Hal itu dibuktikannya dengan munculnya Peraturan Pemerintah Nomor 70 tahun 2020 tentang ata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebir Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitas, dan Pengumuman Identitias Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak.
Menurut Jalewari, Presiden Jokowi menginginkan agar pelaku kekerasan terhadap anak diberikan hukuman yang membuatnya jera. Terutama terkait kasus pedifilia dan kekerasan seksual pada anak.
“Perkosaan dan kekerasan seksual terhadap anak (merupakan) tindakan yang sangat serius dan keji.
Tindakan tersebut tidak bisa diterima oleh akal budi dan nurani kemanusiaan kita.
Terlebih lagi bila yang melakukan adalah ayah kandungnya.
Oleh karena itu pelakunya harus dihukum berat” tegasnya.
Jaleswari juga menekankan bahwa suara korban yang merupakan anak-anak harus didengarkan dan diperhatikan secara seksama. Termasuk pula suara ibu para korban.
"Bayangkan saja mereka adalah anak-anak kita sendiri," tandas Jaleswari.