Berita Internasional

Taliban Marah ke AS Usai Setop Bantuan ke Afghanistan 'Dibantu Evakuasi, Aset Kami Malah Dibekukan'

Taliban Marah ke AS Usai Setop Bantuan ke Afghanistan 'Dibantu Evakuasi, Aset Kami Malah Dibekukan'

Editor: Slamet Teguh
via Sky News
Amir Khan Muttaqi di tahun 2001 

TRIBUNSUMSEL.COM - Polemik di Afghanistan hingga kini masih terus berlanjut.

Saat ini, Taliban telah menguasai Afghanistan.

Namun, nyatanya sejumlah masalah masih saja tetap terjadi.

Pejabat Menteri Luar Negeri Afghanistan dari pemerintahan Taliban, Amir Khan Muttaqi mengkritik AS karena memutuskan bantuan ekonomi usai kelompoknya mengambil alih negara.

Dalam pidato pertamanya di depan media, Muttaqi mengatakan bahwa Taliban tidak akan membiarkan negara manapun termasuk AS menjatuhkan embargo dan sanksi pada Afghanistan, Selasa (14/9/2021).

"(Kami) membantu AS sampai evakuasi orang terakhir mereka, tetapi sayangnya, AS, alih-alih berterima kasih kepada kami, (malah) membekukan aset kami," katanya, dikutip dari Al Jazeera.

Sejak Taliban menguasai Kabul pada 15 Agustus dan mantan Presiden Ashraf Ghani melarikan diri, Federal Reserve AS, IMF, dan Bank Dunia memutus akses Afghanistan ke dana.

Hal ini mengakibatkan krisis likuiditas yang meluas dalam ekonomi yang bergantung pada uang tunai.

Muttaqi juga berterima kasih kepada masyarakat internasional karena menjanjikan lebih dari $1 miliar, bantuan untuk Afghanistan pada konferensi donor PBB, Senin (13/9/2021).

"Kami menyambut baik janji pendanaan bantuan darurat yang diberikan kepada Afghanistan selama pertemuan kemarin yang diselenggarakan oleh PBB di Jenewa," katanya.

Baca juga: Kini, Taliban Temukan Emas Batangan dan Uang Jutaan Dolar di Rumah Mantan Wapres Afghanistan

Baca juga: Kondisi Terkini Afghanistan, Warga Jual Piring hingga Tempat Tidur Bekas untuk Makan : Kami Miskin

Minta Semua Negara Akui Pemerintahan Taliban

Sejak menguasai Afghanistan kembali, belum ada pemerintahan luar negeri yang secara resmi mengakui pemerintahan Afghanistan di bawah Taliban.

Hal ini dapat membahayakan ekonomi Afghanistan yang bergantung kepada bantuan asing selama 20 tahun terakhir ini.

Menurut Bank Dunia, bantuan asing mencapai sekitar 40% dari produk domestik bruto Afghanistan.

Dalam konferensi PBB, Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa "tidak mungkin" memberikan bantuan kepada Afghanistan tanpa terlibat dengan Taliban.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved