Breaking News:

Berita Palembang

Jaket Pelampung Dianggap Mengganggu, Getek dan Speetboat Beroperasi Tanpa Alat Keselamatan

Setiap perjalanan ia jaket pelampung jarang dikenakan karena arus sungai yang tidak terlalu deras dan kekuatan angin yang tidak kencang.

Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/LINDA TRISNAWATI
Ketua Umum Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI), Hayono Isman. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Salah satu standar keselamatan penumpang dan sopir kapal speedboat dan getek adalah ketersediaan life jacket. Sayangnya, masih banyak sopir speedboat alias serang yang belum menyadari pentingnya ketersediaan alat keselamatan tersebut.

Dari pengakuan sejumlah serang di Dermaga 16 Ilir, Palembang, minimnya life jacket karena memakan tempat di kabin. Joni (37), salah seorang serang speedboat mengatakan, hanya menyediakan life jacket dua unit saja dari 30 kapasitas penumpang.

"Kalau jaket pelampung diletakkan semua di dalam speedboat akan memenuhi ruang gerak dan mengurangi kursi penumpang," kata Joni saat dijumpai, Senin (13/9/2021).

Life jacket atau jaket pelampung yang ia miliki adalah bantuan yang pernah diberikan Dishub beberapa waktu lalu. Setiap perjalanan ia jaket pelampung jarang dikenakan karena arus sungai yang tidak terlalu deras dan kekuatan angin yang tidak kencang. "Saya biasa mengantar penumpang dari Palembang ke Makarti Jaya, Kabupaten Banyuasin. Di perjalanan arusnya tidak terlalu berbahaya, kalau masih bisa dilewati ya lewati saja," jelasnya.

Dalam satu kali berangkat, jumlah penumpang yang diangkut berkisar 20 orang saja.

Sama halnya dengan Rohani (52) sopir kapal getek, yang mengaku sama sekali tidak punya life jacket di geteknya yang berkapasitas 15 orang. Ia beralasan karena jarak tempuhnya dekat ia merasa di dalam perjalanan akan aman tanpa gangguan arus sungai.

"Tujuan saya Palembang-Pemulutan jaraknya dekat. Life jacket pernah ada bantuan, tapi hanya sebagian sopir yang dapat saya tidak punya," katanya.

Berbeda dengan Rudi (45) sopir speedboat tujuan Karang Agung, Kabupaten Musi Banyuasin. Ia menyediakan life jacket sesuai dengan standar pengadaan dari jumlah penumpang yang bisa ditampung. "Dari kapasitas 40 penumpang, ada pelampung dan life jacket yang disediakan jumlahnya 30 unit. Biasanya dipakai kalau arus kuat, pas mau ada kejadian. Kalau ketemu arus yang sekiranya berbahaya berhenti dulu sejenak, " ujarnya.

Pengadaan life jacket ia dapat dari Dinas Perhubungan dan beli sendiri. "Selama sepuluh tahun jadi sopir, life jacket yang didapat sebagian dikasih Dishub sisanya beli pakai uang sendiri," tambahnya.

Baca juga: Ketum KORMI Hayono Isman: Fornas VI di Sumsel Terakbar, Ingin Kalahkan Rekor China di Palembang

Sementara itu, Kepala UPTD Pelabuhan 16 Ilir Dinas Perhubungan Kota Palembang, Muhammad Junaidi mengatakan aturan penyediaan life jacket oleh sopir/pemilik kapal speedboat sesuai dengan UU nomor 17 tahun 2008 tentang pelayaran.

Berdasarkan standarnya, jumlah life jacket yang disediakan harus sesuai kapasitas penumpang yang bisa diangkut atau lebih dari 50 persen kapasitas kapal.

"Kalau kapasitas penumpang 40 orang, ya 40 life jacket. Begitu juga yang 10 orang dan 80 orang," katanya.
Ia menyadari mayoritas sopir speedboat dan kapal ketek masih banyak yang tidak menyediakan life jacket dan life buoy (pelampung).

"Imbauan dan sosialisasi terus kami lakukan tapi alasan sopir-sopir, dengan pengadaan life jacket akan mengurangi angkutan barang dan membuat penumpang merasa sempit," jelasnya.

Terakhir kali bantuan life jacket dilakukan di tahun ini dengan memberikan 20 unit life jacket kepada sopir speedboat yang aktif menggunakan Jasa Raharja. "Untuk yang tidak menggunakan Jasa Raharja sedang kami upayakan untuk mendapat life jacket," tutupnya. (cr19)

Baca berita lainnya langsung dari google news

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved