Breaking News:

Berita Internasional

Penjelasan Ilmuwan Top Pfizer Usai Respons Antibodi Disebut Kalah dari Moderna

Penjelasan Ilmuwan Top Pfizer Usai Respons Antibodi Disebut Kalah dari Moderna

Editor: Slamet Teguh
Ist via Tribunnews.com
Mal Artha Gading Gelar Vaksin Pfizer 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNSUMSEL.COM, NEW YORK - Pandemi Covid-19 masih terus terjadi di Indonesia.

Sejumlah upaya terus dilakukan untuk menekan angka penyebaran virus ini.

Salah satu cara yang diterapkan ialah antara lain vaksinasi.

Kepala Petugas Ilmiah raksasa farmasi Pfizer, Philip Dormitzer mengatakan pada hari Rabu lalu bahwa Pfizer dan pembuat kodenya yakni BioNTech 'menggunakan tingkat dosis minimum' dalam pembuatan vaksinnya untuk mendapatkan respons kekebalan yang lebih kuat untuk melawan virus corona (Covid-19).

Dormitzer menambahkan bahwa dosis yang lebih tinggi kemungkinan berisiko menimbulkan lebih banyak efek samping.

Perlu diketahui, vaksin Pfizer memiliki 30 mikrogram mRNA, sedangkan Moderna 100 mikrogram.

Baca juga: Kejar Herd Immunity, DPD PKS  Palembang Vaksin Dosis Kedua 500 Warga

Baca juga: Mengenal Vaksin Johnson & Johnson yang Baru Tiba di Indonesia, KIPI dan Efikasinya

Dikutip dari laman Business Insider, Minggu (12/9/2021), dalam penelitian terbaru, para ilmuwan berspekulasi bahwa ini bisa menjadi alasan mengapa vaksin Pfizer menghasilkan respons antibodi yang lebih rendah dibandingkan Moderna.

"Jika anda melihat apa yang terjadi dengan semua vaksin Covid-19 di luar sana, 'kecacatannya' sering kali dilihat dari efek samping yang muncul," kata Dormitzer.

Namun menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS), vaksin Pfizer dan Moderna menghasilkan efek samping yang serupa, termasuk nyeri lengan, nyeri, kulit menjadi kemerahan, nyeri otot, kelelahan dan demam.

Lembaga tersebut mengatakan bahwa jenis peradangan jantung yang disebut miokarditis menjadi efek samping yang 'sangat jarang' dari dua vaksin ini.

Ada laporan yang menunjukkan efek samping lainnya berupa ruam merah yang muncul setelah mendapatkan suntikan Moderna, namun kemudian hilang dengan sendirinya.

Di AS, kata CDC, saat ini penyedia layanan vaksinasi telah memberikan lebih dari 214 juta dosis Pfizer dan 147 juta dosis Moderna.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Respons Antibodi Disebut Kalah dari Moderna, Ini Pembelaan Ilmuwan Top Pfizer.

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved