Mengandung 75 Persen Copper, Apa itu Copper di Uang Koin 1000 Bergambar Kelapa Sawit

Kehebohan soal uang koin Rp1000 bergambar kelapa sawit yang dibanderol hingga puluhan juta membuat banyak orang penasaran.

Tayang:
Editor: M. Syah Beni
Tribunsumsel.com
Kandungan di Uang Logam Rp 1000 Kelapa Sawit 

TRIBUNSUMSEL.COM -  Kehebohan soal uang koin Rp1000 bergambar kelapa sawit yang dibanderol hingga puluhan juta membuat banyak orang penasaran.

Apa yang membuat koin ini dihargai selangit ?

Meski ada pernyataan dari kolektor uang kuno Nazym Otie Kusardi, yang mengatakan harga yang dibanderol itu tak wajar.

Namun hingga kini masih banyak yang menjual uang ini dengan harga tak masuk akal

Menurut Nazym, uang koin kelapa sawit rata-rata dijual dengan kisaran harga Rp 3.000 sampai Rp 10.000 per keping.

Kecuali, kata dia, jika uang itu memiliki kekhususan lain seperti uang cetakan khusus atau proof. Menurut dia, uang logam proof Rp 1.000 bisa dijual hingga Rp 4 juta, tergantung dari kondisi uang tersebut.

"Itu orang jual ngawur saja. Masih banyak yang jual dengan harga Rp 3.000 sampai Rp 10.000 per keping," kata Nazym

Baca juga: Bukan Koin Rp1000 Bergambar Kelapa Sawit, Ini Daftar Uang Kuno Berharga Mahal Bagi Kolektor

Dilansir laman Bank Indonesia, uang logam seribu rupiah gambar kelapa sawit tersebut mempunyai nama asli Uang Logam Bank Indonesia Emisi 1993.

Dari tahunnya jelas diketahui jika uang logam kelapa sawit diterbitkan pada tahun 1993 atau tepatnya 8 Maret 1993.

Secara kasat mata uang logam ini lebih tebal dari lainnya.

Coba bandingkan dengan uang logam pecahan Rp 500 yang lebih tipis.

Uang yang berbentuk bulat pipih itu beratnya 8,60 gram, dengan tebal 2,40 mm.

Pada bagian luar diameternya 26 mm, sedangkan dalam diameternya 18 mm.

Untuk warna dominan, pada bagian luar berwarna putih, baik di sisi depan maupun belakang.

Sedangkan bagian dalamnya berwarna kuning, baik di sisi depan maupun belakang.

Baca juga: Heboh Uang Koin Kelapa Sawit Seharga Rp 50 Juta, Kolektor Angkat Bicara, Ini Faktanya Sebenarnya

Ciri-ciri uang itu adalah adanya teks "KELAPA SAWIT" dan "Rp 1.000" di sisi belakang.

Selain itu juga ada gambar kelapa sawit.

Detail komposisinya yaitu, bagian cincin (luar): 75% copper, 25% nickel, dan bagian inti: 60-70% Copper, 40-30% Zinc.

Uang koin ini banyak ditemukan di situs belanja daring.

Selain koin Rp 1.000 itu, yang juga diburu yakni koin pecahan Rp 500 keluaran tahun 1991.

Ada yang menawarkannya sebagai koleksi, tawaran untuk menjadikannya cincin, atau tawaran untuk bahan membuat souvenir pernikahan.

Lantas apa itu copper yang menjadi bahan utama uang Rp1000 ini

Baca juga: Harga Sebenarnya Koin Rp1000 Bergambar Pohon Sawit, Ternyata Tidak Sampai Puluhan Juta

Copper atau yang kita kenal sehari-hari dengan sebutan tembaga adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Cu dan nomor atom 29.

Tembaga merupakan konduktor panas dan listrik yang baik.

Selain itu unsur ini memiliki korosi yang cepat sekali.

Tembaga murni sifatnya halus dan lunak, dengan permukaan berwarna jingga kemerahan.

Tembaga dicampurkan dengan timah untuk membuat perunggu

Artinya kandungan di dalam uang logam Rp1000 bergambar sawit didominasi oleh tembaga.

Penjelasan Bank Indonesia

Fenomena uang koin kelapa sawit dijual hingga puluhan juta rupiah sebenarnya terjadi berulang.

Pada 2020 lalu, uang ini juga menjadi buah bibir karena dijual dengan harga kelewat mahal.

Sampai-sampai Bank Indonesia saat itu menjelaskan bahwa uang koin kelapa sawit masih sah sebagai alat pembayaran.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Onny Widjanarko mengatakan, uang logam pecahan Rp 1.000 tahun emisi 1993 itu masih berlaku sebagai alat pembayaran yang sah karena belum dicabut dan ditarik dari peredaran.

Sebagai alat pembayaran yang sah, nilai tukar uang koin bergambar kelapa sawit itu sama dengan nominalnya, yaitu Rp 1.000.

"Terkait dengan uang logam Rp 1000 gambar kelapa sawit, kami sampaikan bahwa sebagai alat pembayaran yang sah untuk bertansaksi, nilai tukar uang logam dimaksud sama dengan nilai nominalnya yaitu Rp 1.000," kata Onny kepada Kompas.com, Jumat (19/6/2020).

Onny menuturkan, jika ada masyarakat yang akan mengoleksi koin tersebut, biasanya nilai jual bergantung pada kesepakatan antara penjual dan si pembeli koin.

"Jika ada masyarakat yang akan mengkoleksi (bukan transaksi) layaknya koleksi numimastic/koleksi uang-uang kuno, biasanya harganya tergantung kesepakatan antara pembeli dan penjual," sebut Onny.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved