Warga Sungai Menang OKI Dimakan Buaya

BREAKING NEWS: Tumiran Warga Sungai Menang OKI Dimakan Buaya, Viral di Media Sosial

seorang pria warga Desa Bumi Pratama mandira, Kecamatan Sungai Menang, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumsel dikabarkan hilang diterkam buaya

Penulis: Winando Davinchi | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/WINANDO/DARI FACEBOOK
Foto Tumiran yang ada dalam postingan yang beredar di media sosial Facebook. Tumiran warga Desa Bumi Pratama mandira, Kecamatan Sungai Menang, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan dikabarkan hilang diterkam buaya membuat geger masyarakat. 

TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG -- Kabar seorang pria warga Desa Bumi Pratama mandira, Kecamatan Sungai Menang, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan dikabarkan hilang diterkam buaya membuat geger masyarakat.

Kabar warga yang diterkam buaya ini menjadi viral di sosial media.

Seperti salah satu postingan di akun Facebook @Erpani dengan isi yang menerangkan.

"Kita doakan semoga saudara kami Tumiran, warga Desa bumi pratama Mandira. Semalam sekira pukul 22.00 di seret buaya dan sampe sekarang belum ditemukan mohon do'anya semoga bisa ditemukan," tulisnya melalui akun pribadinya.

Dalam posting itu ditampilkan foto dari warga yang merupakan korban jiwa.

Saat dikonfirmasi lebih lanjut, Kapolsek Sungai Menang, Aipda Suhendri membenarkan terkait kejadian tersebut.

"Sejauh ini petugas kita masih melakukan pencarian," tuturnya singkat.

Daerah Habitat Buaya di Sumsel

Akhir-akhir ini banyak manusia menjadi korban dimakan buaya. Hal tersebut dikarenakan habitat buaya terganggu, ditambah saat bulan Juni masih masanya buaya bertelur.

"Saat buaya bertelur dia akan lebih agresif. Untuk itu diimbau kepada masyarakat agar waspada, kurangi aktivitas di malam hari yang tidak perlu," kata Kepala BKSDA Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Ujang Wisnu Barata, Jumat (18/6/2021).

Lebih lanjut ia menjelaskan, buaya ini saat malam hari lebih aktif karena memang siklus hidupnya pada malam hari. Lalu saat peralihan antara gelap ke terang atau terang ke gelap juga lebih aktif lagi.

"Kenapa sampai ada konflik dengan manusia, karena habitat buaya itu sendiri terganggu misal perubahan fungsi lahan. Awalnya masih ada vegetasi dan lain-lain, kini beralih fungsi," katanya

Menurut Ujang, dengan beralih fungsinya itu kan perlu irigasi, kanal dan lain-lain, sehingga ruang hidup mereka jadi lebih sempit dan kemungkinan bertemu dengan manusia jadi lebih sering.

Untuk itu memang perlu upaya terus menerus untuk mengedukasi masyarakat agar menyadari hal tersebut. Sekali lagi karena perjumpaan dengan manusianya ada, sehingga terjadi seperti itu.

"Sebenarnya karakter buaya kalau habitatnya cukup dia cukup di situ saja. Selain habitat hidup makan, juga perlu area yang cukup untuk bergerak. Lintasannya buaya ini 10 km, terutama untuk yang jantan," ungkapnya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved