Hajar Aswad Adalah Batu Apa? Ini Warnanya, Batu Suci Kuno Selalu Disentuh Jemaah Haji

Namun berdasarkan foto terbaru yang ditampilkan, warna asli Hajar Aswad sebetulnya bukan hitam. Hal ini diungkap pada foto digital yang diperbesar

Tayang:
Editor: Wawan Perdana
Twitter @ReasahAlharmain
Hajar Aswad, batu suci kuno di Mekkah ini dipotret dengan resolusi tinggi. 

Dilansir dari CNN, (4/5/2021), Presidensi Umum Urusan Masjid Agung Saudi dan Masjid Nabawi mengungkapkan, batu suci kuno di Mekkah ini dipotret dengan resolusi tinggi.

Hajar aswad difoto menggunakan kamera 49.000 megapiksel dan membutuhkan waktu lebih dari 50 jam untuk dibidik dan dikembangkan.

Pihak presidensi umum juga bekerja sama dengan agen teknik Dua Masjid Suci untuk mengambil 1.050 foto Hajar Aswad, yang masing-masing kamera berukuran 160 GB.

Pemotretan ini menggunakan teknik yang dikenal sebagai penumpukan fokus. Teknik ini dilakukan dengan menggabungkan beberapa foto dengan titik fokus yang berbeda untuk menjaga ketajaman produk akhir.

"Hal ini penting karena kenampakan Hajar Aswad dari teknik ini belum pernah terjadi sebelumnya," ujar seorang rekan dalam studi Islam di Universitas Oxford, yang tidak terlibat dalam proyek yang bersangkutan, Afifi al-Akiti kepada CNN.

Ditemukan Nabi Ibrahim

Ada berbagai pendapat tentang apa itu Hajar Aswad sebenarnya. Orang Muslim mengatakan, Hajar Aswad ditemukan oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail, ketika mereka mencari batu untuk membangun Ka'bah.

Mereka menyadari nilainya dan menjadikannya salah satu batu penjuru bangunan. Sementara, sejarawan sekuler mengatakan bahwa kemungkinan besar Hajar Aswad merupakan meteorit.

Namun, tidak ada cara untuk menguji hipotesis ini tanpa memindahkan dan memeriksa Hajar Aswad. Sebab, tindakan ini tidak diizinkan oleh penjaga Hajar Aswad.

Banyak ahli geologi di seluruh dunia telah mencoba yang terbaik untuk memastikan jenis dan sifat Hajar Aswad, tetapi tidak dapat mencapai temuan akhir karena batasan budaya dan agama yang tidak memungkinkan siapa pun mengebor batu untuk tujuan ilmiah.

Sifat Hajar Aswad telah banyak diperdebatkan. Hal ini telah dijelaskan dengan berbagai cara sebagai batu basal, batu akik, sepotong kaca alam atau meteorit berbatu.

Tim ahli geologi dari Universitas Oxford mempelajari sampel lokal yang dikumpulkan ari emplasemen batu dan menemukan sejumlah penting iridium dan banyak kerucut pecah.

Kondisi itu merupakan fitur geologi langka yang hanya diketahui terbentuk di batuan dasar di bawah kawah tumbukan meteorit yang disukai temuan Paul Partsch yang menerbitkan sejarah komprehensif pertama Batu Hitam pada tahun 1857.

Pada tahun 1974, Robert Dietz dan John McHone berkomentar bahwa batu tersebut mengandung karakteristik pita difusi yang jelas terlihat dari batu akik.

Para peneliti juga menyebutkan bahwa warna batunya hitam legam dan terlihat mengkilap karena hasil dari disentuhnya permukaan batu secara terus-menerus oleh para peziarah.

Sumber: Kompas
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved