Breaking News:

Mudik Lokal di Sumsel Resmi Dilarang

Mudik Lokal di Sumsel Dilarang, Bupati OKU Timur Lanosin:'Dari Hati Paling Dalam Ingin Sekali Mudik'

Seperti apa yang sudah disampaikan Bapak Mendagri kita harus mengikutinya. Dari hati rasanya tentu ingin sekali mudik

TRIBUN SUMSEL/EDO PRAMADI
Bupati OKU Timur H Lanosin Hamzah ST menyatakan meski dari hati terdalam ingin mudik tetapi keadaan berkata lain dan harus menunda mudik. 

TRIBUNSUMSEL.COM, MARTAPURA - Setelah Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Jenderal Polisi (Purn) Tito Karnavian menegaskan bahwa mudik lokal di Sumsel dilarang sejak tanggal 6 - 17 Mei 2021.

Bupati OKU Timur H Lanosin Hamzah ST yang akrab disapa Enos ini mengungkapkan, dari hati yang paling dalam sebenarnya semuanya ingin mudik namun keadaan berkata lain dikarenakan situasi yang tidak memungkinkan ditambah lagi saat ini OKU Timur masih zona merah.

"Dalam hal ini Kita tidak bisa banyak bicara, namun seperti apa yang sudah disampaikan Bapak Mendagri kita harus mengikutinya. Dari hati rasanya tentu ingin sekali mudik," ujar Orang nomor satu di Kabupaten OKU Timur ini. Selasa (4/5/3021).

Dikatakan Enos, semua itu dilakukan demi kebaikan bersama dan untuk menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes).

"Kita harus menegakkan Prokes, kita harus dapat menerima imbauan dari pusat," jelas dia.

Baca juga: Pemkot Palembang Tiadakan Salat Ied Fitri 1442 H, Ini Respon Pengurus Masjid Agung Palembang

Baca juga: BREAKING NEWS: Johan Anuar, Wabup OKU Non Aktif Bakal Jalani Sidang Putusan, Digelar Virtual

Keputusan itu diambil mengingat Sumsel saat ini masih berada di angka penyebaran positif Covid 19 yang cukup tinggi secara nasional dan dua wilayah tercatat sebagai zona merah yakni Kota Palembang dan Kabupaten OKU Timur.

Ditanya mengenai persiapan Sholat Ied di Masjid Agung Sabilul Mutaqqin Martapura nantinya, Bupati menjelaskan, sebenarnya secara pribadi dirinya ingin tetap pelaksanaan sholat tersebut tetap dilakukan di masjid, hanya saja memang berpegang teguh pada penerapan Prokes yang ketat.

"Seandainya nanti terjadi koreksi. Pada intinya saya ingin tetap dilakukan sholat ied di masjid, namun harus sesuai dengan Prokes, Jarak harus diatur, menggunakan masker, mencuci tangan dan jumlah jamaah harus dibatasi mungkin setengahnya," tutur Enos.

Ikuti Kami di Google Klik

Penulis: Edo Pramadi
Editor: Vanda Rosetiati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved