Baru Jadi Ahli Agama 11 Tahun, Seorang Biksu Penggal Kepalanya, Berharap Beruntung di Akhirat

Hal itu yang dilakukan oleh seorang biksu Buddha di Thailand. Ia ditemukan tewas karena memenggal kepalanya sendiri, pada hari ulang tahunnya

Editor: Siemen Martin
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
ilustrasi 

TRIBUNSUMSEL.COM - Memenggal kepalanya sendiri, berharap ia lebih beruntung di akhirat nanti.

Hal itu yang dilakukan oleh seorang biksu Buddha di Thailand.

Ia ditemukan tewas karena memenggal kepalanya sendiri, pada hari ulang tahunnya.

New York Post melaporkan pada Selasa (20/4/2021), tindakan si Biksu dilakukannya dengan harapan pengorbanan mengerikan itu, akan memberinya keberuntungan di akhirat.

Thammakorn Wangpreecha, (68 tahun) telah menjadi seorang biksu selama 11 tahun.

Dia dilaporkan membangun alat pancungnya di dekat patung religius yang menggambarkan dewa Indra melakukan hal yang sama, lapor Metro Inggris.

Keponakan si biarawan, yang menemukan mayat yang dipenggal itu, mengatakan Wangpreecha telah meninggalkan sebuah catatan.

“Dinyatakan bahwa pemenggalan kepalanya adalah caranya memuji Buddha, dan dia telah merencanakan ini selama lima tahun sekarang,” kata keponakannya yang bernama Booncherd Boonrod.

Lebih lanjut dalam wasiatnya Wangpreecha menyatakan keinginannya, untuk mempersembahkan kepala dan jiwanya.

Supaya Tuhan dapat memberinya reinkarnasi sebagai makhluk spiritual yang lebih tinggi di kehidupan selanjutnya,” tambah keponakan itu. 

Ratusan pengikut biksu yang meninggal itu, kemudian turun ke kuil Wat Phu Hin di Nong Bua Lamphu.

Mereka mempersiapkan jenazahnya untuk pemakaman.

Lalu menempatkannya di peti mati, dengan kepala di peti mati terpisah, untuk dibakar di hutan.

Sementara itu, Insiden ini mendorong Kantor Nasional Buddhisme meminta pemerintah daerah menyebarkan pesan, bahwa orang dapat memberikan uang atau burung peliharaan gratis sebagai korban.

Bukannya mengorbankan dirinya sendiri.

“Para eksekutif dan kepala wihara harus meninjau kembali praktik mereka dan menjaga biksu lain di wihara mereka,” kata juru bicara kantor Sipbowon Kaeo-ngam, International Business Times melaporkan.

“Insiden ini kemungkinan merupakan bukti dari kelalaian untuk melakukannya (pengawasan), “Kita harus mencegah situasi yang tidak menyenangkan seperti itu terjadi lagi,” tambahnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved