Cahaya PLN Buat Warga Tanjung Harapan Lubuklinggau Urung Pindah

Sejak tahun 2012, warga Tanjung Harapan Kelurahan Moneng Sepati Kecamatan Lubuklinggau Selatan II Kota Lubuklinggau Sumsel, sumringah.

Penulis: Eko Hepronis | Editor: Prawira Maulana
EKO HEPRONIS
Ketua RT 04 Kelurahan Moneng Sepati Kecamatan Lubuklinggau Selatan II, Rahmad saat menunjukkan meteran listrik dirumahnya. 

Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Eko Hepronis

TRIBUSUMSEL.COM, LUBUKLINGGAU -- Sejak tahun 2012, warga Tanjung Harapan Kelurahan Moneng Sepati Kecamatan Lubuklinggau Selatan II Kota Lubuklinggau Sumsel, sumringah.

Puluhan tahun warga setempat hidup tanpa penerangan listrik. Mereka hanya mengandalkan lampu minyak dan menggunakan alat elektronik secara terbatas.

Kini, hampir sebagian besar rumah warga sudah terang benderang oleh cahaya listrik. Anak-anak sekolah yang semula tak bisa belajar maksimal, kini bisa belajar di bawah terangnya lampu.

Ketua RT 04 Kelurahan Moneng Sepati Kecamatan Lubuklinggau Selatan II, Rahmad menuturkan, sangat bersyukur dan berterima kasih kepada PLN karena listrik sudah masuk ke wilayah mereka.

"Kami sangat berterima kasih, dahulu daerah kami ini sangat gelap gulita. Sekarang semua penduduk di RT ini rumahnya sudah teraliri listrik," kata Rahmad pada wartawan, Minggu (14/2/2021).

Rahmad pun bercerita, sebelum listrik masuk, warga yang tinggal di kelurahannya ini sehari-hari mendapat penerangan dengan mengandalkan mesin genset dari salah satu rumah warga.

Namun, karena keterbatasan bahan bakar sehingga tidak memungkinkan mereka mendapat aliran listrik dalam waktu yang lama. Pemakaiannya pun dilakukan secara terbatas hanya sampai enam jam.

"Dalam satu bulan kami harus mengeluarkan uang bervariasi tergantung pemakaian. Seperti rumah saya dulu ada dua lampu sama TV totalnya saya bayar Rp 100 ribu," ungkapnya.

Besarnya biaya yang dikeluarkan oleh warga saat itu, membuat sebagian warga yang sudah menempati Tanjung Harapan sejak tahun 1981 silam, banyak memilih pindah ke daerah yang sudah terali listrik.

"Awalnya dahulu kami disini ada 90 Kepala Keluarga (KK), kemudian di tahun 2000 an banyak yang pindah keluar arah Jl Poros yang sudah teraliri listrik, sekarang tersisa hanya
71 KK," ujarnya.

Selain tak adanya listrik, warga banyak pindah karena akses jalan yang sangat buruk, sehingga meski sumber daya hasil bumi melimpah tidak bisa terangkut dengan maksimal karena besarnya ongkos transportasi.

Namun sejak tahun 2012 ketika PLN masuk perlahan-lahan warga mulai betah. Dulunya wilayah yang setiap malam sunyi seperti kuburan itu, kini terang benderang oleh cahaya lampu.

"Sejak PLN masuk sangat terbantu, dahulu rumah-rumah warga tidak ada yang punya TV sekarang punya TV, dahulu kami ngambil air harus ngerek dulu dari sumur sekarang cukup colokan mesin, air masuk bak mandi," ungkapnya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved