Breaking News:

Berita Palembang

Ternyata Orang Jadul Pakai Terapi Plasma, Profesor Unsri Ungkap Fakta Terapi Plasma Konvalesen

Terapi plasma ini terapi yang paling kuno. Jadi orang zaman dulu sudah pakai terapi plasma ini, misal cacar atau penyakit lainnya

Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUNSUMSEL.COM/LINDA TRISNAWATI
Profesor dari Universitas Sriwijaya yang juga ahli mikrobiologi, Prof. Dr. dr. Yuwono, M. Biomed mengungkapkan orang jadul ternyata sudah pakai terapi plasma. 

"Saya juga ada mendengar di Sumsel ini saja, ada sejawat saya yang dulu sempat kritis dan diterapi pakai plasma ini baik dia, sembuh. Tapi ada juga yang lainnya terapi dengan cara lainnya juga baik. Maka plasma ini termasuk usaha atau opsi yang cukup bagus," ungkapnya.

Prof Yuwono menceritakan, sebenarnya sejarahnya, bahwa terapi plasma ini terapi yang paling kuno. Jadi orang zaman dulu sudah pakai terapi plasma ini, misal cacar atau penyakit lainnya kalau ada kemungkinan untuk dimasukkan darahnya maka dimasukkan. Jadi ini memang terapi yang sangat kuno, meskipun kuno tapi sampai sekarang ini diakui medis itu ilmiah dan memang bisa dipertanggung jawabkan.

"Namun masalahnya, bahwa kita harus memastikan plasma yang dimasukan itu benar-benar aman. Kalau tidak aman ya jangan sampai dimasukkan," katanya.

Masih kata Prof Yuwono, artinya begini, orang yang sudah sembuh Covid-19 berarti plasmanya bisa untuk terapi. Namun orang ini ternyata ada hepatitis, maka kemungkinannya virus itu bisa masuk. Untuk itu plasma ini harus yang benar-benar aman, dan skriningnya harus bagus. Artinya penyiapan plasmanya harus bagus.

"Inilah mungkin kendalanya di Sumsel memang harus didedikasikan untuk prosesing plasmanya, termasuk tidak mudah untuk mendapatkan donornya. Contohnya dari 10 orang yang pernah terkena Covid-19 dan sembuh belum tentu 10 nya ini memenuhi syarat," katanya.

Sebab, ada titer dengan kadar tertentu yang bisa digunakan untuk terapi. Kalau tidak cukup artinya hanya bisa untuk dirisendiri dan tidak bisa didonorkan.

Namun, apapun itu yang dimasukkan berupa obat, nutrisi, vaksin, makanan dan lain-lain menurut Prof Yowono itu pasti punya efek samping. Efek samping yang sering muncul itu inkompatibel atau tidak cocok.

"Ada faktor-faktor lain yang kita tidak tahu, sehingga suatu saat akan menimbulkan inkompatibel, reaksinya biasanya dalam bentuk alergi seperti gatal-gatal. Kalau yang beratnya bisa sampai pingsan," jelasnya.

Menurut Prof Yuwono, berdasarkan standar WHO, yang ringan dan sedang sebaiknya isolasi mandiri saja. Artinya yang seperti itu tidak perlu terapi plasma. Bahkan tidak perlu obat-obatan yang begitu berat, yang bakal berefek tidak baik untuk tubuhnya. Maka terapi plasma ini biasanya digunakan untuk yang berat atau bahkan kritis.

"Tahun lalu saya sudah pernah bilang, di Sumsel ini kan yang sembuh sudah banyak. Artinya itu berpotensi. Misal yang sembuh 13 ribu, dari 80 persen yang sembuh, yang layak untuk donor plasma 10 persen artinya ada ratusan orang yang berpotensi untuk donor plasma. Maka itu cukup banyak, maka saya pikir ini layak dan bagus untuk dipikirkan," katanya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved