Breaking News:

Berita Bisnis

Produk Tidak Laku, Pengusaha Jangan Langsung Rebranding, Lakukan Hal Ini Lebih Dahulu

Kalau pasaran sudah tahu brand sebaiknya tidak mengganti brandnya maka yang bisa dilakukan rebranding dengan hanya mengganti visual, komunikasinya

Penulis: Melisa Wulandari | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUN SUMSEL/MELISA WULANDARI
Webinar food clinic 2020: Pembangunan kapasitas jejaring kabupaten/kota kreatif Indonesia dengan tema membangun strategi branding bisnis kuliner yang dihadiri oleh beberapa kota di Indonesia termasuk Palembang 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Rebranding atau memperbaharui sebuah brand bukan lah suatu keputusan yang tidak selalu benar selain bisa menghabiskan banyak uang tapi juga harus melalui proses yang panjang.

Praktisi brand visual-Geometry, Primo Rizky saat hadir di Webinar Food Clinic 2020: Pembangunan Kapasitas Jejaring Kabupaten/kota kreatif Indonesia dengan tema Membangun Strategi Branding Bisnis Kuliner mengatakan sebelum rebranding harus lakukan evaluasi terlebih dahulu.

"Kalau sebuah brand tidak berjalan baik tidak mesti direbranding, tapi kita harus melakukan evaluasi kalau misal ternyata orang sudah tahu dengan brandnya, mungkin penerimaannya tidak sesuai," jelasnya.

Penerimaan tidak sesuai bisa jadi karena tidak relevan dengan generasi dan market kalau seperti itu harus disiasati dengan produknya saja.

"Jadi emang sebaiknya dilakukan evaluasi. Kalau pasaran sudah tahu brand sebaiknya tidak mengganti brandnya maka yang bisa dilakukan rebranding dengan hanya mengganti visual, komunikasinya," ujarnya.

Ditambahkan oleh, Gupta Sitorus yang merupakan praktisi marketing-Sandpipper apabila gagal di pasaran masih belum dikenal dengan belum kenal dengan brand bisa jadi ada kesalahan dari cara komunikasinya atau cara penyampaiannya.

"Sebelum memutuskan rebranding dipastikan dievaluasi apa masalahnya misal masalah di produknya, misal sebelum meluncurkan produk kuliner dipastikan bagi-bagi sample," katanya.

Bagi-bagi sample ini bisa ke 100 orang lihat respon mereka apabila 10 dari 100 orang tersebut tidak suka berarti ada sepersepuluh yang tidak menyukai produk ini dan hal ini sangat bahaya.

"Saya sering menemukan produk bagus sudah di woro-woro bahkan dijual keluar negeri tapi gak bisa masuk ke pasar Indonesia. Lagi-lagi dievaluasi apa masalahnya karena biaya cukup mahal kalau mau melakukan rebranding," katanya. 

Ikuti Kami di Google

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved