Berita Palembang
Viral Ambulans Angkut Seserahan, Direktur RS Pusri Jelaskan Beda Fungsi Ambulans dan Mobil Jenazah
Mungkin ambulans sengaja dipinjam disaat hari libur dan sudah ada izin dari atasannya, ya saya rasa itu tidak masalah
Penulis: Shinta Dwi Anggraini | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUNSUMSEL. COM, PALEMBANG - Direktur RS Pusri Palembang, Prof Yuwono angkat bicara terkait viralnya rekaman video yang menunjukkan sebuah mobil ambulans dipergunakan untuk mengangkut hantaran pernikahan.
Dikatakan Profesor Yuwono, masyarakat sejatinya harus dapat membedakan antara kegunaan ambulans dan mobil jenazah.
"Karena kegunaan dua mobil itu berbeda dan ini yang justru sering keliru di tengah masyarakat," ujarnya, Selasa (20/10/2020).
Mobil Ambulans, kata Yuwono, adalah sarana transportasi yang digunakan untuk mengangkut orang sakit atau biasa disebut pasien.
Beda dengan penggunaan mobil jenazah yang khusus ditujukan untuk mengangkut orang meninggal.
"Biasanya di dalam ambulans selalu tersedia berbagai peralatan seperti oksigen, infus dan lain sebagainya yang memang harus ada karena itu sangat diperlukan oleh pasien. Sedangkan di mobil jenazah tidak perlu ada peralatan itu karena memang ditujukan khusus untuk mengangkut orang yang sudah meninggal," ujarnya.
Terkait adanya mobil ambulans yang digunakan sebagai iringan hantaran pengantin, Yuwono mengatakan, secara etik tindakan tersebut memang dirasa kurang tepat.
Namun menurutnya, hal itu dikembalikan lagi kepada manajemen klinik atau faskes lain selaku pemilik dari ambulans tersebut.
"Kita tidak tahu apakah ada orang sakit diantara iringan itu. Atau mungkin ambulans sengaja dipinjam disaat hari libur dan sudah ada izin dari atasannya, ya saya rasa itu tidak masalah," ujarnya.
Kecuali, kata dia, apabila yang digunakan adalah mobil jenazah, maka tindakan itu baru sangat tidak tepat untuk dilakukan.
Sebab dikhawatirkan dapat membuka risiko penularan penyakit.
"Apalagi jenazah di masa pandemi ini dianggap ada potensi untuk menularkan (penyakit),"ujarnya.
Terlepas dari hal tersebut, Yuwono menilai ada dua faktor kemungkinan yang menyebabkan kejadian viral itu terjadi.
Pertama karena ingin viral, kedua bisa saja hal tersebut merupakan bentuk nyata dari rasa frustasi yang dialami masyarakat maupun tenaga medis dimasa pandemi ini.
"Kalau memang itu kejadiannya, sering saya katakan makanya sabar. Pandemi ini harus dilalui dengan upaya dan kesabaran. Kalau kita tidak sabar ya bisa saja memang tidak kena covid, tapi bisa stres dengan situasi. Itu bisa menjadikan kita tidak produktif," ujarnya.