Tingkatkan Partisipasi Pemilih di Tengah Pandemi Covid-19, KPU Sumsel Genjot Suara Millenial
Ini menjadi tantangan besar bagi kami, padahal pemilih millineial dapat dikatakan sebagai penyelenggara kelompok pemilih cerdas.
Penulis: Arief Basuki Rohekan | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Anak muda akan menjadi penentu arah demokrasi Indonesia ke depan dalam Pilkada serentak 2020 yang akan dilaksanakan. Jumlahnya yang signfikan, sebenarnya bisa memberikan kontribusi besar bagi bangsa ini.
Maka dari itu, segala upaya perlu dilakukan untuk meningkatkan lagi partisipasi mereka dalam memberikan hak pilih. Khususnya menggenjot pemilih- pemilih kalangan millenial tersebut.
Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Amrah Muslimin mengungkapkan, jika berbicara soal pemilihan pasti tidak lepas dari 3 hal. Yaitu, penyelenggara, peserta pemilu/pilkada dan elemen penting pemilih.
"Dalam hal pemilih, dapat kita bedakan adalah ramainya pemilih millenial, bisa jadi kelompok pemilu pemula atau dewasa. Dimana sudut pandang kelompok millenial yaitu yang menggunakan perangkat teknologi, jika dipresentasikan sekitar 60 persen jumlahnya, baik secara nasional dan daerah," kata Amrah disela- sela talkshow bersam Tribun Sumsel- Sripo dengan tema Suara- suara Millenial.
Diungkapkan Amrah, pemilih millenial sendiri sudah menjadi sasaran target pihak KPU yang menyelenggarakan Pilkada untuk meningkatkan angka partisipasi pemilih yang ada, dan dengan jumlah yang besar pemilih millenial tidak boleh dikesampingkan.
"Pemilih millenial salah satu sasaran target kita. Tapi setelah masa pandemi covid-19 datang saat ini, kampanye harusnya banyak disasar kalangan milleni, tapi faktanya peserta pilkada tidak memanfaatkan pertemuan melalui media daring dan jadi kontradiktif," tuturnya.
Diungkapkan Amrah, ternyata peserta pilkada tetap banyak melakukan pertemuan tatap muka yang dianggap lebih efektif. Meski begitu, jika tatap muka dilakukan harus tetap mengedepankan protokol kesehatan sesuai aturan yang ada, seperti dengan pembatasan jumlah massa, memakai masker, tersedianya hand sanitizer, tempat cuci tangan hingga jaga jarak aman.
"Ini menjadi tantangan besar bagi kami, padahal pemilih millineial dapat dikatakan sebagai penyelenggara kelompok pemilih cerdas. Karena informasi yang diterima lebih banyak dari pada pemilih luar millenial," capnya.
Ditambahkan Amrah, pihaknya kedepan akan lebih memaksimalkan sosialisasi melalui media sosial yang ada, karena itu dianggap efektif sekaligus meminimalisir penyebaran virus Covid-19 yang ada.
"Kami dari divisi sosialisasi, terus mengaktifkan startegi- strategi bermacam- macam, seperti mengaktifkan akun medsos yang ada, tapi memang belum maksimal. Tapi peran teman- teman media sudah menggeliat dengan melakukan kegiatan- kegiatan saring, baik talkshow atau webinar seperti diklakukan Tribun Sumsel dan Sripo selama ini. Sebab, ini salah satu bentuk kita menyampaikan informasi kepada kalangan millenial yang ada," tandasnya.
Dilanjutkan mantan ketua KPU Ogan Ilir (OI) ini, meski ada keterbatasan di daerah baik jaringan internet ataupun lainnya bagi pemilih pemula, khususnya pelajar yang ada, jajaran KPU Kabupaten yang melaksanakan Pilkada tetap akan melakukan sosialisasi melalui tatap muka.
"Jadi, tetap akan ada pertemuan- pertemuan tatap muka langsung yang KPU Kabupaten lakukan, seperti Go to Scool, dimana beberapa daerah sudah kerjasama dengan instansi terkait dan kami akan tetap kerjasama dengan sekolah yang berpotensi pemilih pemulanya. Jadi, bisa dua kegiatan pertemuan langsung dibatasi dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan, atau kegiatan melalui media daring, seperti belajar daring sekolah saat ini," pungkasnya.