Remaja Cinta Negeri di Kampung Cempaka 26 Ilir Palembang Manfaatkan Barang Bekas Jadi PLTB Mini
Karena bahan-bahan dari bahan bekas maka biaya yang kami keluarkan untuk membuat PLTB Mini ini hanya Rp 100 ribu, yaitu untuk membeli inverter.
Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Kampung Cempaka Warna-warni yang ada di Jalan Batu Nilam Lorong Cempaka dalam RT 18 RW 05 Kelurahan 26 Ilir Kecamatan Bukit Kecil Kota Palembang, terus berinovasi menghadirkan sesuatu yang baru dari barang-barang bekas.
Kali ini para remaja di Kampung Cempaka dengan nama Remaja Cinta Negeri Kampung Cempaka berinovasi menciptakan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) mini, dari bahan bekas.
Ayu Zahrah yang merupakan salah satu Remaja Cinta Negeri Kampung Cempaka mengatakan anggota Remaja Cinta Negeri Kampung Cempaka ini ada delapan orang.
"Kami bersama-sama membuat PLTB mini ini dibantu kakak Mahgodie Idris yang juga warga Kampung Cempaka," kata Ayu saat dibincangi Tribun Sumsel di Kampung Cempaka, Rabu (26/8/2020).
Ayu pun menceritakan, bahwa secara keseluruhan pembuatan PLTB Mini ini butuh waktu dua Minggu. Bahan-bahan yang digunakan dari barang bekas seperti baling-baling dari mangkok plastik, dinamo dari kipas bekas sebagai generator, baterai accu bekas dua buah dan inverter 35 watt.
"Karena bahan-bahan dari bahan bekas maka biaya yang kami keluarkan untuk membuat PLTB Mini ini hanya Rp 100 ribu, yaitu untuk membeli inverter," kata gadis yang masih berusia 18 tahun.
Ayu yang saat ini juga masih kuliah di Universitas Negeri Sriwijaya (Unsri) menjelaskan cara kerja PLTB mini ini yaitu digerakkan oleh generator. Generator itu digerakan oleh angin, lalu menghasilkan energi listrik untuk mengecas aki.
Kemudian tegangan listrik DC diubah menjadi AC dengan inverter. Lalu menghasilkan listik, untuk listrik yang dihasilkan dari PLTB mini ini dengan tegangan 220 volt dan daya 35 watt.
"Dengan daya 35 watt ini maka kalau digunakan untuk lampu yang 7 watt bisa digunakan untuk lima lampu. Untuk ketahanannya bisa sampai 8 jam," bebernya.
Kemudian PLTB mini yang ada ini digunakan untuk menerangi taman yang ada di Kampung Cempaka. Sebab para Remaja Cinta Negeri Kampung Cempaka ini juga berinovasi mengubah lahan kosong menjadi taman ketahanan pangan.
"PLTB mini ini kita gunakan untuk penerangan di taman ketahanan pangan disini. Dengan adanya taman dan penerangan yang kami buat disini manfaatnya cukup banyak seperti anak-anak bisa belajar di taman dengan lampu penerangan PLTB mini. Lalu sayur mayur yang ada di sini juga bisa diambil untuk dimasak para ibu-ibu," ungkapnya.
Terpantau di lapangan, memang taman ketahanan pangan ini saat malam hari terlihat indah dengan lampu yang menerangi. Selain itu juga ada ornamen-ornamen yang ada di taman seperti hiasan lukisan-lukisan, hingga tanaman yang asri indah dipandang.
Sementara itu Nabila warga Kampung Cempaka merasa senang dengan adanya taman ketahanan pangan. Selain bisa jadi tempat belajar juga bisa jadi tempat bermain dan kumpul bersama teman-teman.
Sedangkan dikutip dari www.iesr.or.id, bahwa IESR menyambut baik peresmian kebun angin pertama di Indonesia, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap 75 MW dan PLTB Jeneponto 70 MW di Provinsi Sulawesi Selatan, oleh Presiden Joko Widodo pada Senin, 2 Juli 2018.
IESR menilai beroperasinya dua pembangkit ini merupakan indikasi positif yang menunjukan bahwa Indonesia memiliki potensi energi bayu (angin) yang cukup besar. Kementerian ESDM memperkirakan potensi PLTB di Indonesia mencapai 100 GW.
Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa menyatakan, energi terbarukan merupakan sektor yang masih muda dan belum tumbuh mapan di Indonesia.
Pemerintah seharusnya menyiapkan kebijakan yang dapat mendorong iklim investasi yang sehat, sehingga harga ekonomi energi terbarukan dapat terbentuk. Sehingga nantinya bisa sejajar atau lebih rendah dari harga energi fosil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/remaja-kampung-cempaka-26-ilir-palembang-membuat-pltb-mini.jpg)