Curhat Orangtua Bayi Kembar Siam, Anaya-Inaya Saling Geret Gapai Sesuatu, akan Dioperasi 90 Dokter
Tim tersebut terdiri dari tim pemeriksa, tim yang bekerja di ruang operasi, ada dokter bius, dokter bedah, ada yang akan mengurus iccu anak, dan lainn
Dian mengatakan, bayi kembar siam telah menjalani serangkaian pemeriksaan secara mendetail oleh tim dokter, baik tim dokter RSUD Dr Soetomo atau pun RSUD Soedjono.
Dokter Dian menjelaskan bahwa Inaya dan Anaya telah diperiksa oleh Ketua Tim Pusat Penanganan Kembar Siam Terpadu (PPKST) RSUD Dr Soetomo, dr Agus Harianto, dokter bedah anak, dokter spesialis jantung, dan bedah syaraf.
"Anaya normal, sementara Inaya ada kebocoran jantung sedikit yang menurut pemeriksaan, kemungkinan akan menutup sendiri setelah usianya dua tahun dan tidak akan menganggu tindakan operasinya," kata Dian.
Dari hasil pemeriksaan lengkap terhadap Inaya dan Anaya, baik melalui pemeriksan Ultrasonography (USG) maupun CT Scan, semua organnya lengkap, kecuali hati.
"Jadi kalau hati dari pengalaman tim RSUD Dr Soetomo, hati bisa dipisahkan nanti akan tumbuh sendiri," jelas Dian.
Dengan seluruh penjelasan tersebut, Tantowi yakin operasi bayi kembar siam akan berjalan lancar.
Tantowi mengatakan, apabila operasi tersebut berhasil akan menorehkan prestasi bersama dan membawa nama NTB.
Banyak pihak yang berperan di situ, tidak hanya medis, tetapi didukung oleh pemerintah daerah Kabupaten Lombok Timur.
"Karena jika ini berhasil, keberhasilan ini nanti adalah wajah daerah. Bisa mengangkat nama dan peran Pemkab Lombok Timur dan NTB dalam menangani masalah kesehatan termasuk penanganan bayi kembar siam. Jika berhasil, ini pertama kali dalam sejarah di NTB. Meski pun kita masih mendatangkan tenaga ahli, tapi kita di daerah mampu melakukan itu, " kata Tantowi.
Berdasarkan data dari sejumlah rumah sakit dan Dinas Kesehatan NTB, sejumlah bayi kembar siam pernah lahir di NTB dan semuanya dilaporkan meninggal dunia.
Di antaranya, bayi kembar siam asal Mataram bernama M Noval dan M Faras (3 bulan), putra pasangan Ahmad Ridwan (38) dan Widyawati (28).
Keduanya terlahir dempet pada bagian dada dan perut (thoraco omphalopagus), atau mengalami kelainan jantung dan pembuluh darah.
Keduanya meninggal dunia 22 Juli 2009.
2012, lahir bayi kembar siam dari Dusun Jelanteng, Desa Sekotong Timur, Kecamatan Lembar Lombok Barat.
Bayi tersebut dempet dada dan perut.