Profesor Yuwono : Mau Terapkan New Normal, Siap Tidak Pemimpinnya ?

"Masa transisi masyarakat saat ini sudah 50 persen jadi kurang lebih 70 persen siap. Maka tinggal bagaimana pemimpinnya. Sebab dengan budaya ini butuh

Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Weni Wahyuny
Tribun Sumsel/ Linda Trisnawati
Juru bicara penanganan Covid-19 Sumsel, Prof Yuwono 

Kesimpulan sementaranya di seluruh dunia belum efektif berhasil.

"Oleh karena itu WHO melihat bahwa kita kemungkinan akan hidup bersama Covid-19 ini hingga beberapa tahun kedepan, setidaknya 5 tahun kedepan. Sebab Covid-19 ini tidak bisa serta merta hilang seperti flue burung yang hilang enam bulan," jelasnya.

Oleh karena itu WHO mengajukan proposal yang namanya new normal life.

Ini adalah budaya, beda dengan pembatasan sosial bersekala besar (PSBB) dan lockdown, sebab kalau PSBB dan lock down itu aksi atau program sedangkan new normal life ini adalah budaya.

"Apa bedanya contoh kalau program ada batas waktu misal seperti PSBB 14 hari, sedangkan kalau new normal life ini seterusnya tidak ada batasan waktu. Karena ini budaya yang harus kita bangun," katanya.

"Jadi kalau ditanya apakah kita mau menerapkan atau tidak? Dengan hasil WHO saja, senang tidak senang, mau tidak mau maka kita harus menerapkan budaya. Soal mau diberi nama istilah new normal atau apapun itu silahkan saja," cetusnya.

Tapi initinya, lanjut Yuwono, budaya hidup sehat ini harus diterapkan didalam kondisi pandemi Covid-19.

Contohnya sosial distancing dan physical distancing.

Jika PSBB ada waktunya, kalau saat new normal adalah seterusnya.

"Maka kalau biasanya sering keluar, maka dikurangin. Lalu kalau ada jumpa pers, dibangun budaya jaga jarak dan pakai masker. Lalu budaya cuci tangan, kalau selama ini abis dari mana-mana tidak cuci tangan maka nantinya harus terbiasa cuci tangan.," ungkapnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved