Julukan Baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump, 'Raja Utang' ?

Bukannya mengurangi defisit, ketika perekonomian AS kuat, Trump malah menumpuk lebih banyak utang untuk membayar besar-besaran insentif pajak dan lonj

Editor: Weni Wahyuny
ESQUIRE.COM
Tiga bekas selotip di balik Donald Trump 

Jika tidak, maka tidak akan dapat membayar utang setelah krisis pandemi Covid-19 berakhir nanti.

Bahkan pengawas defisit mendesak Negeri Paman Sam itu untuk tetap meminjam.

Tentu saja, akan ada konsekuensi jangka panjang atas menggunungnya utang tersebut.

Karena tingkat bunga akan lebih tinggi, begitu juga inflasi akan tinggi dan kemungkinan pajak akan lebih tinggi.

Tapi untuk saat ini, fokusnya adalah menjaga bisnis di Amerika tetap bertahan.

Pada Maret lalu, Kongres meloloskan paket stimulus sebesar2,3 triliun AS, terbesar dalam sejarah.

Kantor Anggaran Kongres AS bulan lalu memperkirakan defisit anggaran akan mencapai 3,7 triliun dollar AS tahun ini, atau naik dari 1 triliun AS pada 2019 lalu. Sementara utang nasional melonjak di atas 100 persen dari PDB.

Kemungkinan besar masih akan ada paket stimulus laini akan diterapkan pemerintah AS, jumlahnya sekitar 2 triliun dolas AS, pada akhir tahun ini.

Paket stimulus ini bertujuan untuk membantu pemerintah negara bagian dan pemerintah daerah yang babak belur oleh krisis.

Semua ini akan membuat utang AS semakin menggunung.

Tapi pemerintah AS meyakini tidak ada pilihan lain yang layak untuk mencegah krisis terjadi.

Sebelumnya diberitakan paket stimulus teranyar yang dirilis pemerintah AS untuk penanganan dan penyelamatan ekonomi dari virus corona setara sekira 14 persen dari produk domestik bruto (PDB) AS. (CNN/BBC)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Presiden Donald Trump Dijuluki Si 'Raja Utang'

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved