Live Talk Sumsel Virtual Fest 2020

Sejarawan Indonesia JJ Rizal Bicara Soal Corona, Saksikan di Live Talk Sumsel Virtual Fest 2020

Sebelumnya JJ Rizal mengatakan, bahwa sebenarnya yang mau diceritain di tulisan di majalah Tempo itu mau menggambarkan bagaimana sebenarnya wabah ini

Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Weni Wahyuny
Tribun Sumsel
JJ Rizal akan tampil juga di Live Talk Sumsel Virtual Fest 2020 yang diadakan Tribun Sumsel dan Sriwijaya Post yang bisa disaksikan di YouTube Tribun Sumsel dan Sripokutv sekira pukul 13.00 WIB. 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Sejarawan Indonesia, JJ Rizal akan bicara soal virus corona yang kini tengah mewabah.

JJ Rizal akan tampil juga di Live Talk Sumsel Virtual Fest 2020 yang diadakan Tribun Sumsel dan Sriwijaya Post yang bisa disaksikan di YouTube Tribun Sumsel dan Sripokutv sekira pukul 13.00 WIB.

Seperti diketahui, JJ Rizal sempat menulis di majalah tempo tentang wabah, dengan judul Wabah Naga Siluman dan Maaf Belanda yang menceritakan tentang wabah kolera terjadi pada masa Diponegoro dan juga tentang keris Kiai Naga Siluman yang dikembalikan oleh Raja Belanda Williem-Alexander.

Sebelumnya JJ Rizal mengatakan, bahwa sebenarnya yang mau diceritain di tulisan di majalah Tempo itu mau menggambarkan bagaimana sebenarnya wabah ini bukan persoalan baru.

Wabah ini persoalan sangat tua.

Menurutnya, bisa di cek juga di masa sebelum Pangeran Diponegoro juga sudah ada wabah yang menelan korban ratusan ribu. Cuma yang menarik kemaren berbarengan dengan dikembalikannya keris Kiai Naga Siluman kunjungannya Raja Belanda.

"Kunjungan itu didahului olah wabah dan rombongan tim ekonomi Belanda. Itu seperti sejarah yang berulang. Saya jadi inget ini kenpa sama persis sebelum meletusnya perang Diponegoro itu ada wabah besar yaitu wabah kolera," ceritanya.

Wabah kolera ini ada terjadi 1821 dan sampai di Surabaya pada bulan April. Hanya dalam satu Minggu di akhir April ditemukan lebih dari 1250an orang meninggal dan dengan cepat wabah ini meluas jadi epidemi.

Sehingga menambah suasana panas di Jawa yang sudah bergolak karena sistem sejak Belanda balik lagi karena menerima kekuasan dari Inggris sejak 1816, yang mewarisi sistem sewa tanah. Jadi tanah-tanah itu disewaka ke pihak investor swasta untuk ditanami produk-produk yang dianggap primadona di pasar dunia.

Ini membuat petani yang punya tanah jadi hanya sebatas kuli. Sehingga muncul pergolakan sosial yang besar dalam bentuk pemberontak. Ini terjadi sejak 1817, artinya ini terjadi setahun setelah Inggris menyerahkan ke Belanda. Munculnya pemberontak ini bertambah dengan munculnya wabah penyakit.

"Orang suka lupa bahwa munculnya perang Jawa atau perang Diponegoro itu sebab musabab nya salah satunya wabah penyakit kolera. Karena Pemerintah Belanda tidak melakukan apa-apa.
Masyarakat makin miskin, begitu banyak pemberontak sosial dan munculnya penjahat profesional, perampok dimana-mana," kayanya.

Lalu 1821 April sampai Agustus ada 125 ribu orang meninggal. Dalam waktu hanya 5 bulan dan itu tidak menimbulkan goncangan dalam kekuasaan. Mereka biasa saja menyewakan tanah nya. Inilah yang mengakibatkan Pangeran Diponegoro bersuara, karena banyak tanah diseawakan tapj rakyat menderita.

"Namun Keraton dan Kompeni malah sibuk kongkalikong memperkaya diri. Di sinilah ada aspek wabah yang sering dilupakan. Menariknya wabah itu puncaknya di bulan puasa juga," ungkapnya.

Sekali lagi menurutnya yang mau digaris bawah salah satu aspek perang Diponegoro itu wabah penyakit. Lalu saat adanya wabah itu justru Pemerintah dalam hal ini keraton dan kompeni tidak ada memikirkan wabah, masyarakat dan lain-lain.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved