Virus Corona Tekan Perdagangan IHSG Hingga 18 Persen, OJK Izinkan Buyback

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan kebijakan baru mengenai pembelian saham kembali atau buy back karena dampak melemahnya IHSG.

WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Ilustrasi 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan kebijakan baru mengenai pembelian saham kembali atau buy back karena dampak melemahnya IHSG.

OJK mengizinkan semua emiten atau perusahaan public, melakukan pembelian kembali (buyback) saham sebagai upaya memberikan stimulus perekonomian dan mengurangi dampak pasar yang berfluktuasi secara signifikan.

Deputi Komisioner Humas dan Logistik Anto Prabowo mengatakan, mencermati kondisi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia sejak awal tahun 2020 sampai dengan 9 Maret 2020, terus mengalami tekanan signifikan yang diindikasikan dari penurunan IHSG sebesar 18,4 persen.

"Penurunan IHSG terjadi karena pelambatan dan tekanan perekonomian baik global, regional maupun nasional sebagai akibat dari wabah COVID-19 dan melemahnya harga minyak dunia sehingga OJK mengeluarkan kebijakan pelaksanaan pembelian kembali saham yang dikeluarkan oleh emiten atau perusahaan publik (buyback saham)," ujarnya, Selasa (10/3/2020).

Buyback saham oleh emiten atau perusahaan publik dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan, dilakukan dengan merelaksasi Pembelian kembali dapat dilakukan tanpa terlebih dahulu memperoleh persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan jumlah saham yang dapat dibeli kembali dapat lebih dari 10 persen dari modal disetor dan paling banyak 20 persen dari modal disetor, dengan ketentuan paling sedikit saham yang beredar 7,5 persen dari modal disetor.

Ketentuan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran OJK Nomor 3/SEOJK.04/2020 tanggal 9 Maret 2020 tentang kondisi lain sebagai kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan dalam pelaksanaan pembelian kembali saham yang dikeluarkan oleh emiten atau perusahaan publik.

Adanya surat edaran ini diharapakan memberi kemudahan transaksi di pasar modal sehingga penurunan transaksi bisa ditekan dan berbalik menjadi positif.(rel)

Editor: Prawira Maulana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved