Sejak Tahun 2018 Sudah 2000 Fintech Ilegal Ditutup OJK

sepanjang tahun 2018 hingga Januari 2020, sudah ada 2.018 financial technology (fintech) yang ditutup.

LINDA TRISNAWATI/TRIBUNSUMSEL.COM
Kepala OJK Kantor Regional 7 Sumatera Bagian Selatan Untung Nugroho saat memaparkan materi di acara Pelatihan dan Gathering Media Massa KR 7 Sumbangsel di Yogyakarta, Jumat (21/2/2020). 

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Linda Trisnawati

TRIBUNSUMSEL.COM, Yogyakarta - Berdasarkan data yang tercatat di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sepanjang tahun 2018 hingga Januari 2020, sudah ada 2.018 financial technology (fintech) yang ditutup.

"Sebanyak 2.018 entitas fintech peer to peer lending tanpa izin OJK di tutup," kata Kepala Departmen Penyidik Sektor Jasa Keuangan di OJK Tongam Lumban Tobing saat Pelatihan dan Gathering Media Massa KR 7 Sumbangsel di Yogyakarta, Jumat (21/2/2020).

Lebih lanjut ia mengatakan, fintech-fintech ini meskipun sudah ditutup nanti muncul lagi. Misal di tutup pagi sore sudah ada lagi, atau di tutup sore pagi sudah ada lagi.

"Memang cukup sulit untuk mencegahnya, bahkan sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak mulai Google dan pihak terkait lainnya tapi masih sulit mencegah munculnya fintech ilegal tersebut," ungkapnya.

Menurutnya, menghentikan tumbuhnya keberadaan fintech ilegal di Indonesia memang tidak mudah. Meski tim satgas waspada investasi sudah maksimal melakukan upaya penutupan fintech yang ilegal, tapi karena  kemudahan membuat aplikasi fintech ini maka menyebabkan fintech ilegal tetap ada.

"Untuk data fintech yang resmi ada 164 sedangkan yang ilegal cukup banyak. Fintech ini banyak dipilih masyarakat karena prosesnya yang mudah, terlebih masyarakat Indonesia ini memang gemar berhutang," ungkapnya.

Berdasarkan data, pada 2018 tercatat aset fintech di Indonesia Rp 1,5 triliun. Namun pada 2019 meningkat drastis menjadi Rp 3,04 triliun. Naik 96,13 persen atau Rp 1,49 triliun. Ini menunjukkan perkembangan fintech di Indonesia sangat drastis.

Sementara itu, Kepala OJK Kantor Regional 7 Sumbagsel Untung Nugroho menambahkan, jumlah nasabah fintech di Sumatra Bagian Selatan (Sumbangsel) melejit hingga 527,05 persen sepanjang tahun 2019 menjadi 3,31 juta borrower dibanding tahun sebelumnya yang hanya 529.279 peminjam.

"Peningkatan jumlah nasabah itu terjadi di lima provinsi yang ada di wilayah Sumbagsel. Borrower Fintech baik di Sumsel, Lampung, Jambi, Bengkulu dan Bangka Belitung (Babel) mengalami pertumbuhan yang sama. Bahkan di Babel tumbuh hingga 621,48 persen," katanya.

Untung memaparkan, peningkatan jumlah nasabah yang menggunakan pembiayaan dari industri teknologi finansial itu bahkan tercatat di atas pertumbuhan borrower nasional yang sebesar 471,3 persen.

Ia menambahkan pertumbuhan jumlah nasabah itu juga diikuti dengan akumulasi pembiayaan yang disalurkan fintech di mana tercatat sebanyak Rp 2,4 triliun atau naik 206,65 persen dari Rp 795,24 miliar.

Penulis: Linda Trisnawati
Editor: Prawira Maulana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved