Breaking News:

Wagub Sumsel Mawardi Yahya Tekankan Pentingnya Strategi Pengendalian Kecelakaan Kerja

Penerapan K3 pada revolusi industri 4.0 masih menghadapi banyak tantangan, salah satunya adalah kesiapan tenaga kerja Indonesia.

Editor: Vanda Rosetiati
HUMAS PEMPROV SUMSEL
PERINGATAN BULAN K3 - Wakil Gubernur Sumsel H Mawardi Yahya saat menjadi inspektur upacara Pada Peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional ke-50 tingkat Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) di Lapangan PT Pusri Palembang, Rabu (12/2/2020). 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Wakil Gubernur Provinsi Sumsel H Mawardi Yahya mengingatkan pentingnya strategi pengendalian yang lebih efektif, efisien serta inovatif dalam mencegah terjadinya kecelakaan kerja akibat kerja.

Hal ini disampaikan Wagub Sumsel H Mawardi Yahya saat Peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional ke-50 tingkat Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) di Lapangan PT Pusri Palembang Rabu (12/2/2020).

Berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan, pada tahun 2018 telah terjadi 157.313 kasus kecelakaan kerja dan sepanjang Januari hingga September 2019 terdapat 130.293 kasus.

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan terjadinya penurunan kasus kecelakaan kerja sebesar 26.40%.

"Termasuk dalam kategori kecelakaan kerja adalah kecelakaan lalu lintas pada perjalanan pekerja menuju tempat kerja, dari tempat kerja menuju tempat tinggal. Kecelakaan kerja tidak hanya menyebabkan kematian, kerugian materi, moril dan pencemaran lingkungan, tetapi juga penurunan produktivitas masyarakat," ungkap Wagub Sumsel H Mawardi Yahya saat menjadi inspektur upacara Pada Peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional ke-50 tingkat Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) di Lapangan PT. Pusri Palembang.

Dalam kesempatan ini pula Mawardi Yahya membacakan sambutan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Hj Ida Fauziyah, MSi yang mengajak seluruh pemangku kepentingan baik pengusaha, serikat pekerja, pekerja dan untuk masyarakat dapat melakukan upaya konkrit terhadap pelaksanaan K3 di lingkungan masing- masing. Hal ini agar budaya K3 berbasis teknologi informasi benar-benar terwujud di seluruh tanah air.

 "Badan Pusat Statistik mencatat jumlah angkatan kerja pada Agustus 2019 sebanyak 133.56 juta orang, mengalami penurunan 2.62 juta orang dibandingkan Februari 2019. Penduduk bekerja sebanyak 126,51 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 57,5 persen adalah lulusan SD dan SMP. Hal tersebut berpotensi terhadap rendahnya kesadaran pentingnya perilaku selamat dalam bekerja," tambahnya.

Dalam agenda peningkatan kualitas SDM, perlu pemahaman K3 yang komprehensif bagi SDM di perusahaan, guna memastikan dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan beresiko dapat dilakukan secara aman.

"Pada akhirnya dapat menciptakan tempat kerja yang aman, nyaman, efisien dan produktif. pembangunan diarahkan pada infrastruktur yang menghubungkan kawasan produksi dengan pasar dalam rangka memperluas kesempatan kerja dan mengakselerasi nilai tambah perekonomian rakyat," tambahnya.

Program pembangunan tersebut harus didukung dengan penerapan K3 agar Dalam agenda infrastruktur. Lebih jauh Ia menyampaikan Penerapan K3 pada revolusi industri 4.0 masih menghadapi banyak tantangan, salah satunya adalah kesiapan tenaga kerja Indonesia dalam menghadapi digitalisasi.

"Perubahan tersebut akan menimbulkan hilangnya beberapa jenis pekerjaan dan memunculkan jenis-jenis pekerjaan baru dengan pendekatan digital dan IT. Fenomena ini dapat berdampak pada timbulnya jenis potensi bahaya baru," pungkasnya. (adv/humas pemprov sumsel)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved