Berita Gubernur Sumsel

Deru Minta Bank Wakaf Mikro Diluncurkan Bulan Depan, Berdayakan Masyarakat Sekitar Ponpes

Gubernur Sumsel Herman Deru, meminta Bank Wakaf Mandiri (BWM) di Sumsel segera diluncurkan pada Februari 2020 ini

Deru Minta Bank Wakaf Mikro Diluncurkan Bulan Depan, Berdayakan Masyarakat Sekitar Ponpes
Sripo/ Jati Purwanti
Gubernur Herman Deru menghadiri rapat rencana pendirian bank wakaf mikro melalui pondok pesantren di Sumsel di Ruang Rapat Gubernur, Rabu (22/1/2020). 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG-Gubernur Sumsel Herman Deru, meminta Bank Wakaf Mandiri (BWM) di Sumsel segera diluncurkan pada Februari 2020 ini.

Semakin cepat BWM diluncurkan membuktikan bahwa pendiriannya tidak hanya sebatas wacana berkepanjangan alias tanpa eksekusi.

“Kalau bisa saya ingin awal Februari sudah launching. Biar program ini segera berjalan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan pelaku usaha kecil."

"Ini bentuk perhatian kita pada mereka juga,” ujarnya pada rapat rencana pendirian BWM melalui pondok pesantren di Ruang Rapat Gubernur, Rabu (22/1/2020).

Dia menjelaskan, pembentukan BWM ini bukan hanya mengakselerasi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) saja akan tetapi juga perwujudan kepedulian dari instansi terkait untuk pengembangan ekonomi kerakyatan.

“Karena itu pula saya meminta jangan berorientasi profit. Syaratnya nanti tidak berat. Untuk tahap awal ini lima pesantren bisa dijadikan model dulu,” jelasnya.

Dia mengatakan, sebelumnya program serupa BWM telah lebih dahulu di Kabupaten OKU Selatan dengan dana kelolaan mencapai Rp1 miliar.

Sayangnya karena saat itu kemampuan analisis pegawainya belum mumpuni sehingga rasio kredit macet (NPL) menyentuh angka yang cukup tinggi.

“Makanya nanti petugasnya harus profesional. Jangan mudah enggak tega, karena kredit macet bisa tinggi."

"Bila perlu nanti petugasnya dilatih secara khusus lebih dulu. Serta pemilihan segmennya juga harus jelas,” katanya.

Sementara itu, Kepala OJK Regional VII Sumbagsel, Panca Hadi Suyatno mengatakan, tujuan program BWM ini didirikan adalah untuk memberdayakan masyarakat di sekitar lingkungan pesantren melalui pendirian lembaga keuangan mikro yang berbasis syariah (LKM syariah/ BWM) dengan pola pendampingan.

“Tujuan utamanya memaksimalkan peran pesantren dalam program pemberdayaan masyarakat miskin produktif. Kemudian, untuk membangun dan mengukuhkan kelembagaan sosial ekonomi dari pesantren bagi lingkungan sekitar pesantren dalam bentuk LKM syariah yang profesional, akuntabel dan mandiri melalui penumbuhan Kelompok Usaha Masyarakat Sekitar Pesantren Indonesia (Kumpi),” terangnya.

Adapun skema sumber pendanaan bersumber dari donatur LAZNAS BSM umat yang merupakan hibah bertujuan khusus (muqqayadah) yang dikhususkan untuk kelembagaan dan operasional LKMS-BWM.

Menurut Panca, agar modal bisnis BWM ini bisa berkelanjutan (sustainable) dan dapat menjangkau sekitar 2000 nasabah di wilayah sekitar pesantren idealnya diperlukan modal Rp8 miliar.

"Untuk tahap awal setiap BWM membutuhkan modal sebesar Rp4,25 miliar." kata Panca.(SP/ Jati Purwanti)

Editor: Wawan Perdana
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved